Duh, Kasus Kekerasan pada Anak di Kabupaten Pasuruan Naik

BANGIL – Angka kasus kekerasan pada anak di Kabupaten Pasuruan terus merangkak naik. Hal itu tercatat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Dari data yang dihimpun, setidaknya, ada 146 kasus yang diterima Satreskrim Polres Pasuruan sepanjang 2016 hingga 2018. Ratusan kasus yang dilaporkan itu, melibatkan sedikitnya 254 anak.

Tak hanya melulu menjadi korban, anak juga menjadi pelaku tindak kriminal. Bahkan, 120 anak tercatat menjadi tersangka. Mereka pun harus meringkuk dipenjara. Tindak kriminal yang melibatkan anak sebagai pelaku, didominasi kasus persetubuhan.

Tahun ini misalnya, ada sebelas kasus persetubuhan yang terjadi. Di mana, rentetan kasus tersebut melibatkan sebanyak 23 anak. Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Budi Santoso menyampaikan, kasus kekerasan terhadap anak memang tak bisa dihilangkan sepenuhnya.

“Kasus demi kasus kekerasan dan tindak kejahatan yang dilakukan anak masih kerap ditemui,” kata Busan –panggilan akrabnya–. Ia menambahkan, anak-anak memang sering menjadi korban bahkan pelaku tindak asusila. Keluguan dan minimnya informasi mengenai dampak perilaku tersebut, disebut-sebut menjadi faktor utama.

Ironisnya, bagi anak korban tindak asusila, pelakunya justru adalah orang dekat atau yang biasanya ada di sekeliling mereka. Karena itu, mereka yang menjadi korban kekerasan ini, mendapat penanganan khusus dari pihak kepolisian. “Kami lakukan pendekatan-pendekatan. Supaya anak-anak yang menjadi korban, tidak lantas trauma,” jelas dia.

Anak yang menjadi pelaku tindak kekerasan, juga dipicu keingintahuan yang tinggi. Namun, rasa ingin tahu itu dalam konteks negatif. Pengaruh lingkungan memberikan sumbangsih terbesar bagi tumbuh kembang anak. Karena itulah, tak sedikit akhirnya anak-anak yang terlibat dalam kasus kriminal. Baik itu pencurian, pencabulan, ataupun kejahatan anak lainnya.

Terhadap mereka yang terjerat kasus anak ini, Busan memastikan akan memberikan pendampingan. Termasuk menyediakan bantuan hukum. Ia menambahkan, sepanjang tiga tahun terakhir, anak yang terjerat kasus kejahatan, semuanya ditahan. Selain ancaman hukuman yang tinggi, juga dipengaruhi usianya yang lebih dari 12 tahun.

“Sepanjang tiga tahun ini, tidak ada yang melalui diversi. Karena ancaman hukumannya tinggi. Dan, lagi usianya rata-rata sudah di atas 12 tahun,” jelasnya. (one/rf/mie)