Kasus Amira dan Noda Penanganan Kekerasan pada Anak di Pasuruan

BELUM TERUNGKAP: Amira semasa masih hidup dan saat jenazahnya ditemukan terkubur tak jauh dari rumah kakeknya. Hingga kini kasusnya belum terungkap. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KASUS kekerasan yang melibatkan anak seperti tak ada habisnya. Ironisnya, seringkali pelaku kekerasan pada anak justru dilakukan oleh orang-orang terdekatnya.

—————–

Publik tidak akan melupakan dua peristiwa yang saling berkaitan di bulan Juli dan Agustus. Pada bulan Juli, ada Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap tahun pada tanggal 23 Juli. Sementara pada bulan Agustus, kita diingatkan akan kasus yang menimpa Amira Sinthya Ramadani, bocah asal Kelurahan Petamanan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.

Seperti diketahui, bocah 5 tahun itu dinyatakan hilang pada 13 Agustus 2014 lalu. Ironisnya, 15 hari berselang, Amira ditemukan tewas mengenaskan. Jasadnya tertanam di bawah pohon pisang tak jauh dari rumah kakeknya.

Hingga saat ini, belum terungkap siapa pelaku pembunuhan pada bocah tersebut. Artinya, Agustus ini, sudah empat tahun pelaku pembunuhan Amira melenggang bebas. Sementara keluarga korban harus menanggung kesedihan mendalam atas meninggalnya bocah cantik tersebut.

Tentu belum terungkapnya siapa dalang penculikan sekaligus pembunuhan terhadap korban, memantik rasa penasaran publik. Yang paling utama tentu mengusik rasa kemanusiaan.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Pasuruan Kota Ipda Suwondo mengungkapkan, pihaknya masih berupaya mengungkap kasus ini. Namun sejauh ini, penyelidikannya masih belum membuahkan hasil.

Ia menjelaskan, Polresta sudah meminta keterangan 13 orang saksi. Yakni kerabat, tetangga, dan saksi yang diduga mengetahui peristiwa ini. Termasuk memeriksa rekaman closed circuit television (CCTV) milik Indomaret yang terletak di sisi utara tempat terakhir korban terlihat.

Menurutnya, sejumlah saksi mengaku sempat melihat seseorang dengan menggunakan sepeda pancal membonceng anak kecil. Mereka keluar dari gang rumah kakek korban menuju ke arah selatan. Namun, warga setempat tidak mengenal pria tersebut.

“Memang sempat ada yang melihat saat Amira dibawa seseorang. Cuma mereka tidak tahu siapa? Kami berupaya mencari dari rekaman CCTV, tapi tidak terlihat. Kebetulan rekaman CCTV yang aktif hanya yang sebelah utara saja. Sementara yang selatannya mati,” katanya.

Untuk mengungkap kasus tersebut, PPA juga sudah menerjunkan anjing pelacak. Namun, hingga kini belum menemukan petunjuk berarti. Termasuk keterangan dari ahli kriminologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang diminta membantu, juga tidak banyak memberikan petunjuk.

“Tentunya, kami masih menyelidiki kasus ini. Cuma kami masih kesulitan. Sebab, tidak ada saksi yang mengetahui secara pasti. Namun, dalam waktu dekat, kami akan memanggil saksi tersebut untuk mempertajam petunjuk,” terang Suwondo. Jaminan untuk terus mengusut kasus tersebut, setidaknya memberikan harapan baru. Meski belum tentu juga, kasus itu bisa diurai dakam waktu cepat.

Sementara itu, Jawa Pos Radar Bromo sempat menemui kakek korban, Mulyono, 63, di rumahnya beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan, pihak keluarga besar sudah ikhlas menerima kepergian Amira.

Namun, bukan berarti kasus tersebut ditutup. Pihak keluarga mendesak polisi cepat menemukan pelakunya. Karena dengan cara seperti itu, pelaku bisa dihukum seberat-beratnya.

“Kami sudah merelakan kepergian Amira. Kami juga tidak ada dendam pada pelakunya. Cuma, kami ingin pelakunya cepat tertangkap dan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya,” terangnya saat ditemui di kediamannya.

Pekerjaan rumah bernama Amira itu, menjadi pertaruhan bagi Polres pasuruan Kota. Meskipun, jumlah kekerasan anak di Kota Pasuruan cenderung menurun. Sepanjang 2017 lalu, pemkot menerima laporan kekerasan pada anak sebanyak 14 buah. Mayoritas kekerasan ini didominasi oleh kekerasan fisik.

Kabid Perlindungan Anak Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Pasuruan Ani Harini mengungkapkan, pada 2016 terdapat 15 laporan. Sementara tahun lalu ada 14 laporan. “Rata-rata ya kekerasan fisik. Laporan ini kami dapatkan dari PPA Polres Pasuruan Kota. Cuma kasus yang tertangani yang tahu itu PPA,” katanya.

Ia menjelaskan, ada banyak faktor yang melatarbelakangi kekerasan pada anak. Misalnya, anak tersebut aktif dan cenderung nakal. Sehingga, orang tua menganggap hukuman yang paling pantas adalah dengan memukul. Padahal, tindak kekerasan bukan jalan untuk mencegah anak bertindak di luar batas. Karena anak yang berbuat nakal, juga terpengaruh keluarga dan lingkungannya.

Ani –sapaan akrabnya – mengatakan, pihaknya tidak tinggal diam untuk mengatasi persoalan tersebut. Melalui Dinas Sosial, mereka berupaya memulihkan kondisi psikis anak. Yakni, dengan melakukan pembinaan dan memberikan pendampingan secara langsung. Sehingga, anak kembali bisa diterima di tengah-tengah masyarakat serta tidak lagi minder.

“Kami juga rutin melakukan sosialisasi tentang pemahaman kekerasan pada orang tua melalui forum kelurahan dan cara mengatasinya,” terangnya. (riz/rf/mie)