Presentasi Tuntas, Peserta Disaring Jadi 30 Nominasi

KADEMANGAN – Sebanyak 60 peserta PAUD Award akhirnya selesai mengikuti tahapan presentasi faktual dan karya yang berlangsung 4 hari, 31 Juli – 3 Agustus 2018. Selanjutnya, panitia akan menyaring peserta menjadi 30 nominasi.

Tiga puluh nominasi ini berasal dari Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK). Yaitu, 15 dari KB dan 15 dari TK.

Selama presentasi hari terakhir, Jumat (3/8), 15 peserta dari KB melakukan presentasi karya di hadapan tim juri. Seperti sebelumnya, acara yang gelaran Disdikpora Kota Probolinggo – Jawa Pos Radar Bromo ini dilakukan di kantor Jawa Pos Radar Bromo.

Salah satu peserta yang presentasi misalnya, peserta nomor 56, Sri Yuli Viandari dari KB Khodijah 1, Wonoasih. “Dalam presentasi ini, saya mengangkat cerita tentang Si Gundul,” katanya.

Sri menceritakan tentang petualangan si Gundul di sekolah. Bermain dan belari bersama teman-temannya, sampai akhirnya jatuh dan terluka.

“Kemudian dengan dibantu teman-temannya, Si Gundul dibawa ke ruang kesehatan. Di sana si Gundul dirawat oleh Memey, temannya yang lain,” ujar Sri.

Suparji, salah satu juri PAUD Award mengungkapkan, guru PAUD dituntut kreatif menciptakan media pembelajaran yang mudah dipahami peserta didik. “Salah satunya melalui metode bercerita. Cara ini efektif untuk menyampaikan nilai akhlak melalui cerita bergambar,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, guru PAUD wajib memiliki kemampuan bercerita yang baik. “Cerita yang ditulis oleh guru sudah baik dan memenuhi harapan, terutama untuk penyampaian nilai-nilai akhlak dan moral kepada anak. Yang perlu diperbaiki adalah kemampuan penyampaian guru dalam bercerita,” jelasnya.

Sementara itu, Erma Kodyawati, ketua pusat kegiatan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Probolinggo mengungkap, lomba membuat cerita bergambar ini berasal dari 15-20 tahun yang lalu. “Saat itu ada lomba membuat cerita bergambar. Namun sayangnya, lomba itu tidak berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Sehingga, kami gagas untuk dilaksanakan tahun 2018,” ujarnya.

Menurut Erna, penting bagi guru PAUD membuat cerita gambar. Tujuannya, memudahkan guru bercerita serta memudahkan anak didik memahami pesan yang disampaikan guru.

“Terutama melalui gambar-gambar yang dibuat oleh gurunya sendiri. Gambarnya tidak harus bagus. Namun, harus menceritakan kehidupan sehari-hari dan memiliki nilai-nilai akhlak bagi anak,” ujarnya.

Dilanjutkannya, anak usia dini umumnya memiliki kemampuan yang terbatas untuk melakukan hal-hal yang sederhana. “Seperti mengancing baju. Nah, hal-hal seperti ini bisa dibuat cerita bergambar, sehingga anak bisa melihat dan mempraktikkan apa yang ada di gambar,” ujarnya. (put/hn/mie)