Jumlah DBD Capai 111 Kasus, Dua di Antaranya Meninggal

CEGAH DBD: Sejumlah petugas di Kabupaten Pasuruan, memantau jentik nyamuk untuk mencegah DBD. Sampai Juli 2018, sudah ditemukan 111 kasus DBD. (Dinkes Kabupaten Pasuruan for Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

BANGIL – Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Pasuruan cenderung menurun. Namun, ancaman dari nyamuk Aedes aegypti ini tidak pernah berhenti.

Terbukti, tahun ini kasus DBD masih bermunculan. Hingga Juli 2018, tercatat ada 111 kasus DBD. Dari jumlah itu, dua korban sampai meninggal dunia.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pasuruan Agus Eko Iswahyudi mengatakan, ancaman DBD patut diwaspadai. Meski risiko DBD saat musim kemarau relatif lebih rendah. “Risiko DBD memang turun jika dibanding saat musim hujan. Tapi, kami tetap mewaspadai ancaman itu,” ujarnya.

Hingga pertengahan 2018, ia mencatat sudah ada rentetan kasus DBD. Meski jumlah kasus yang terjadi tahun ini cenderung menurun. Karena risiko bertambahnya kasus DBD bisa muncul.

Ia mencatat, hingga Juli 2018, sudah ada 111 kasus DBD. Dari jumlah kasus itu, dua di antaranya meninggal dunia. Jumlah itu lebih rendah dibanding 2017 yang mencapai 317 kasus. DBD sepanjang 2017 menyebabkan 13 orang meninggal dunia.

Begitu juga dengan tahun sebelumnya yang ditemukan 764 kasus DBD. Dengan tingkat korban meninggal dunia mencapai 27 orang. “Kasusnya memang menurun. Hal itu tak lepas dari program yang kami jalankan dan peran aktif masyarakat,” ujar Agus.

Agus mengaku terus berupaya memerangi DBD. Salah satunya melalui gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Gerakan ini melibatkan pelajar, karyawan, dan sejumlah masyarakat lainnya. “Kami memiliki program sikat nyamuk dengan pemberantasan sarang nyamuknya. Kami mendorong satu rumah satu juru pemantau jentik. Gerakan inilah yang membuat kasus DBD relatif turun,” ujarnya. (one/fun)