Petani Sukapura Rasakan Dampak Kekeringan-Embun Upas

SUKAPURA – Fenomena turunnya embun beku dan kekeringan di kawasan Bromo mulai dirasakan petani. Saat ini, sedikitnya 15 hektare tanaman sayur yang ada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, mati.

Lahan pertanian itu mati akibat dampak embun beku alias upas dan juga kekeringan. Untuk mencegah kerugian semakin banyak, petani memanen dini tanaman sayur yang mendekati masa panen.

Rinciannya, sekitar 2 hektare lahan pertanian terdampak embun upas. Sementara, 13 hektare lainnya terdampak kekeringan. Sekar, salah seorang petani asal Desa Ngadirejo mengatakan, banyak tanaman petani yang terdampak embun upas. Embun upas yang mengandung belerang itu menyebabkan matinya tanaman.

“Kalau dibiarkan, tanaman ini bisa mati. Apalagi tanaman yang usianya masih muda atau sekitar satu bulanan. Sudah pasti tidak akan tahan dan akan mati,” kata Sekar saat ditemui di ladangnya.

Ita, petani lainnya juga mengatakan hal yang sama. Kandungan belerang yang ada pada upas, membuat tanaman tidak bertahan lama. Ancaman gagal panen menjadi nyata. Untuk mengatasinya, petani biasanya melakukan penyiraman air setiap pagi.

“Kalau yang punya air ya disiram. Tapi kalau tidak punya air, ya sudah dibiarkan. Kalau sudah tua dipanen. Tetapi, kalau masih baru dan terdampak, otomatis tidak bisa dipanen,” ungkapnya.

Ita menambahkan, embun upas itu memang turun di bulan Agustus hingga September. Tepatnya pada musim kemarau. Kondisi tersebut membuat petani kewalahan. Pasalnya, saat musim kemarau, pasokan air di dataran tinggi menipis.

“Sebenarnya, pada musim hujan juga ada. Tetapi, bisa diatasi dengan bantuan air. Kalau musim kemarau yang susah. Airnya saja tidak ada. Ya dibiarkan merugi,” ungkapnya.

Rahman, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Sukapura mengatakan, embun upas hanya terjadi di sekitar savana dan juga di sekitar Desa Ngadisari. “Hanya 2 hektare itu yang terdampak. Tidak banyak. Paling banyak karena faktor kekeringan,” terangnya.

Sementara itu, Camat Sukapura Yulius Christian mengatakan, pada bulan Agustus-September, petani memang diharapkan tidak bercocok tanam. Di samping memasuki musim kemarau, embun upas menjadi ancaman serius pada lahan pertanian. “Jika mau panen ya tidak apa-apa. Yang tidak boleh itu melakukan penanaman,” jelasnya. (sid/rf/mie)