Jamaah Haji Mau Pulang, Toko Oleh-oleh di Pasuruan Panen Rezeki

Musim haji selalu menjadi berkah tersendiri bagi penjual oleh-oleh haji. Tidak terkecuali di Kota Pasuruan. Sejumlah pedagang pun meraup untung yang tidak sedikit akibat tingginya permintaan oleh-oleh haji oleh masyarakat.

FAHRIZAL FIRMANI, Purworejo

Seorang pria tampak sibuk melayani calon pembeli yang datang ke tokonya. Dengan luwes, ia menjawab segala pertanyaan yang diajukan. Proses tawar menawar pun tidak terelakkan.

Usai tarik ulur soal harga, sejumlah calon pembeli yang setuju langsung membeli barang yang diinginkan. Barang yang dibeli juga tak sedikit. Minimal ada puluhan, sehingga pembeli dipastikan membeli dengan memborong.

Begitulah pemandangan yang terjadi di toko oleh-oleh haji, Toko Nazir di utara Alun-alun Pasuruan setiap harinya. Jumlah calon pembeli naik lipat lima jika musim haji tiba. Maklum, ada kebiasaan bagi jamaah haji untuk memberikan oleh-oleh pada kerabat dan tetangganya usai pulang dari tanah suci.

Salah seorang penjual di Toko Nazir, Rian mengungkapkan, musim haji selalu menjadi musim berkah. Sebab, dagangan di tokonya laris manis diburu calon pembeli. Dan, yang paling ramai adalah saat satu minggu sebelum keberangkatan dan seminggu setelah tiba dari ibadah haji.

“Bulan Ramadan juga ramai. Tapi, tetap tidak seramai saat musim haji. Bisa dipahami, di sini kan ada tradisi untuk memberikan oleh-oleh bagi kerabat maupun tetangga,” katanya.

Rian menjelaskan, mayoritas pembeli memburu kurma. Kurma sendiri dijual dalam ukuran 10 kilogram. Harganya pun bervariasi tergantung jenisnya mulai dari Rp 250 ribu sampai Rp 275 ribu. Permintaan pun naik lipat sepuluh dari hari biasa. Rata-rata, tokonya bisa menjual sampai 100 kilogram.

Selain itu, air Zam-zam juga banyak diburu oleh jamaah haji. Dan yang paling dicari adalah kemasan 5 liter yang dijual Rp 400 ribu dan 10 liter yang dijual Rp 500 ribu. Dalam sehari tokonya bisa menjual sampai 15 kemasan air Zam-zam.

“Kalau kurma tidak hanya saat musim haji saja. Saat bulan Ramadan justru permintaan bisa 20 kali lipat dari biasanya karena sudah kebiasaan masyarakat kita untuk berbuka dengan kurma,” ungkap Rian.

Hal senada juga dialami oleh toko Bunadzir yang terletak di sisi selatan Masjid Agung Al Anwar Kota Pasuruan. Toko ini pun tidak lepas diserbu oleh masyarakat yang ingin mencari oleh-oleh haji. Namun berbeda dengan Toko Nazir, toko ini memilih untuk menjual songkok, tasbih, dan parfum Arab.

Ia merinci songkok yang dijualnya bervariasi untuk segala jenis umur. Mulai untuk ukuran anak kecil dihargai Rp 10 ribu sampai ukuran orang dewasa yang dihargai Rp 50 ribu. Sementara tasbih dijual mulai harga Rp 6 ribu untuk ukuran yang paling kecil.

“Alhamdulillah, kami terimbas dengan musim haji ini. Di luar itu, kami juga diserbu pembeli saat Ramadan. Kami bisa melayani permintaan 50 calon pembeli dalam sehari,” jelas Bunadzir, pemilik toko.

Salah seorang pembeli, Yasmin menyebut pihaknya sengaja mendatangi toko Bunadzir untuk membeli songkok dan tasbih. Ini, sebagai oleh-oleh bagi tetangga karena orang tuanya menunaikan ibadah haji tahun ini.

“Kami memborong banyak untuk oleh-oleh. Ada kurma, songkok, tasbih, sampai air Zam-zam. Ini untuk dibagi-bagikan bagi tamu dan tetangga yang datang nanti,” ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan Ridwan. Saat ditemui, lelaki asal Gadingrejo ini mengaku belanja lantaran dimintai tolong oleh adiknya. “Kebetulan adik di tahun ini berangkat dan saya yang dimintai tolong untuk menyiapkan acara kepulangan,” kata Ridwan sembari ramah menyapa.

Segala persiapan pulang untuk menyambut adiknya, juga sudah ditata. Mulai dari menyiapkan acara selamatan yang mengundang tetangga, hingga urusan oleh-oleh. Tak pelak, saat ditemui, di mobilnya banyak bingkisan.

“Ini untuk teman-teman dan tetangga di rumah adik. Tidak mungkin membeli oleh-oleh di sana (Arab) karena barang bawaan dibatasi, lagi pula harganya ya pasti beda. Yang penting kan barokahnya,” terang Ridwan. (fun)