Tak Suka Pemerintahan dan PDI P, Pemuda Sumbergedang Posting Hoax, Berakhir Dibui

DIPERIKSA: Purwanto (kiri) diperiksa penyidik Polres Pasuruan. Dia diamankan lantaran acapkali memosting yang mengandung berita bohong serta kontennya menjelekkan pemerintahan dan PDI Perjuangan. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

BANGIL –Pemilik akun facebook (FB) Wantoadjie diamankan anggota cyber crime Satreskrim Polres Pasuruan. Pengamanan dilakukan karena pemilik diduga mem-posting dan menyebarkan berita bohong di jejaring sosial.

Pelaku adalah Purwanto, 29, warga Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Dia disangka melanggar pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 sebagaimana perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Budi Santoso menguraikan, kasus ini bermula dari laporan Ketua DPC PDIP Kabupaten Pasuruan Andri Wahyudi. Andri melaporkan, akun FB Wantoadjie mem-posting berita-berita yang belum tentu kebenarannya. Dalam posting-annya itu, ada hal-hal yang dinilai merugikan partai.

Akibatnya, pengurus dan simpatisan PDI Perjuangan Kabupaten Pasuruan gerah. Mereka tak terima dengan posting-an yang dibuat pelaku.

“Hingga akhirnya, pengurus partai dan simpatisan mendatangi Polres Pasuruan dan membuat aduan. Mereka datang ke Polres Selasa (4/9),” kata Busan, panggilan Budi Santoso.

Dari situlah, pihak kepolisian kemudian melakukan penelusuran. Hingga akhirnya, petugas mengamankan yang bersangkutan. “Statusnya masih terlapor. Masih kami dalami,” kata Busan.

Disampaikan Busan, pelaku menyebarkan beragam informasi, setelah merasa kecewa dengan pemerintahan yang ada saat ini. Hingga kekecewaan itu, diluapkannya ke media sosial. “Kami masih mengamankan. Tapi belum melakukan penahanan,” sampainya lagi.

Bila terbukti melanggar pasal ITE, Purwanto terancam hukuman berat. Ancaman 6 tahun penjara, menantinya.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pasuruan Andri Wahyudi mengapresiasi kinerja kepolisian dalam penanganan perkara yang dilaporkannya itu. Ia menjelaskan, perkara yang dilaporkannya itu bermula dari posting-annya melalui grub-grub facebook.

Menurut Andri, terlapor menyebarkan berita-berita yang belum tentu kebenarannya. Dalam posting-annya itu pula, ada hal-hal yang dinilai merugikan partai. Seperti PDI Perjuangan yang berencana untuk menutup ponpes ataupun partai tersebut dianggap kafir.

“Sangat lucu. Padahal, ketika hari santri kemarin, Pasuruan menjadi pusat kegiatan. Ketua kami juga hadir di sana,” sambungnya.

Ia berharap, kasus ini menjadi pelajaran. Supaya, masyarakat tidak mudah menyebarkan berita-berita ataupun informasi yang belum tentu kebenarannya.

Sementara itu, Purwanto saat ditemui awak media mengaku, dirinya tidak mengetahui bahwa perbuatannya bisa berujung ke polisi. Ia hanya merasa kecewa dengan kebijakan pemerintah. Karena di saat panen raya, kran impor beras dibuka.

“Saya hanya ikut-ikutan meneruskan posting-an. Saya tidak menyangka akan jadi seperti ini,” bebernya. (one/fun)