Polisi Bongkar Sindikat Penipuan Belanja Online, Modusnya Begini

DITAHAN: Arifi Harisma, tersangka penipuan dan penggelapan mobil diapit dua petugas. Ia ditahan di sel Mapolresta Pasuruan setelah ditangkap, Sabtu (9/9) malam. (Foto: Satreskrim Polresta Pasuruan for Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PASURUAN – Polisi membongkar dugaan sidikat pelaku penipuan dan penggelapan dalam transaksi jual-beli mobil di salah satu situs belanja online. Seorang pelaku telah berhasil diamankan. Sedangkan tiga orang lainnya masih didalami dalam penyelidikan lebih lanjut.

Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota AKP Slamet Santoso menuturkan, aksi penipuan dan penggelapan itu bermula dari posting-an iklan unit mobil Toyota Avanza milik Agung Wibowo, 38, di situs belanja online pada Agustus lalu. Dalam iklan tersebut, Agung bermaksud menjual mobil berwarna silver itu seharga Rp 120 juta.

Sebulan setelah iklan itu dimuat, Agung dihubungi oleh seseorang yang mengaku bernama Jimy yang hendak membeli mobilnya. Tepatnya pada 6 September lalu. “Setelah ada kesepakatan, proses pembayarannya akan dilakukan dengan cara transfer ke pelapor. Jimy ini mengajak ketemuan dengan pelapor, namun yang menemuinya yakni orang kepercayaannya, yakni Arifi Harisma,” tutur Slamet.

Mendapati mobilnya hendak dibeli orang, Agung pun percaya. Pada 7 September, Arifi mendatangi rumah Agung Wibowo di Jalan Gatot Subroto dengan maksud mengambil mobil tersebut. Saat itu, Arifi menyampaikan ke Agung, bahwa pembayaran akan dilakukan oleh orang kepercayaan Jimy bernama Marta.

Di hari yang sama, keduanya menemui Marta di Probolinggo. Tepatnya di rumah Arifi di Perumahan Triwung. “Pelapor sempat bertanya kepada Arifi, mengapa transaksinya tak dilakukan langsung oleh Pak Jimy. Akan tetapi dijawab oleh Arifi bahwa yang bertanggung jawab adalah dirinya sebagai orang kepercayaan Jimy,” jelasnya.

Dalam pertemuan itu, Marta telah melakukan pembayaran melalui transfer dan tunai. Marta membayar mobil tersebut ke Arifi. Rinciannya senilai Rp 100 juta melalui transfer, sedangkan Rp 50 juta dibayar tunai. Setelah membayar, Marta pun membawa mobil serta BPKB-nya.

“Arifi tak langsung menyerahkan uang pembayaran mobil ke pelapor. Namun, tetap dijanjikan dibayar hari itu juga melalui transfer,” ungkap Slamet.

Agung pun merasa dirugikan lantaran mobilnya telah dilepas, tapi uang pun tak kunjung didapat. Ia kemudian melaporkan hal itu ke Mapolres Pasuruan Kota. Setelah diselidiki, polisi kemudian meringkus Arifi di rumahnya di Probolinggo.

Dari penangkapannya, polisi mengamankan dua lembar bukti setor dan transfer bank. Slamet menyebut, uang transaksi mobil tersebut memang tak dibayarkan ke Agung. “Melainkan, sebagian ditransfer ke dua rekening berbeda. Rinciannya sebesar Rp 50 juta dan Rp 17 juta,” urainya.

Arifi saat ini telah ditahan di sel Mapolres Pasuruan Kota. Ia tetapkan tersangka atas dugaan pelanggaran dalam pasal 372 dan atau pasal 378 KUHP tentang tindak pidana Penggelapan dan atau Penipuan. Ia diancam dengan hukuman pidana penjara selama empat tahun.

“Selanjutnya, kami masih mendalami peran Marta ini sejauh mana. Termasuk juga menyelidiki siapa Jimy dan dua orang yang menerima transferan uang dari Arifi. Namun, untuk Jimy, dugaan kami dia hanya rekaan Arifi untuk memuluskan aksi penipuannya,” tandas Slamet. (tom/fun)