Remaja Disabilitas “Dikerjai” hingga Hamil, Warga Lurug Polsek

BEJI – Sejumlah warga Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan mendatangi Polsek Beji, Senin (10/9). Kedatangan mereka untuk mempertanyakan perkembangan kasus dugaan persetubuhan yang dilaporkan.

Mereka khawatir, kasus yang dilaporkan tersebut, mandek di tengah jalan. Pasalnya, sudah dua bulan dilaporkan, namun tidak ada perkembangan seperti yang diharapkan. Yakni penangkapan terhadap para tersangka.

“Kami bukan berdemo. Hanya meminta klarifikasi perkembangan kasus yang sudah ramai di desa kami,” kata Salim, salah satu RW di desa setempat.

Salim mengaku, ingin memperoleh kejelasan dari pihak kepolisian atas kasus yang sempat dilaporkan. Mengingat, isu miring atas penanganan kasus persetubuhan itu bermunculan di desanya.

“Omongan warga sudah tidak enak. Mereka mengira kasus ini mandek. Makanya, kami datang ke sini, untuk meminta kejelasan ke pihak kepolisian,” tandas dia.

Salim datang tidak sendirian. Ia bersama sekitar delapan orang lain ke Mapolsek Beji. Diantara mereka, ada Ar atau Ip, salah satu keluarga korban.

Ip mengaku, kasus persetubuhan yang menimpa adiknya, sebut saja Melati (nama samaran), 20, berlangsung sekitar beberapa bulan yang lalu. Melati hamil setelah menjadi korban persetubuhan M, hingga hamil. Kasus ini terbongkar, setelah kehamilan Melati menginjak lima bulan.

Menurut Ip, keluarganya sudah mendatangi M. Bahkan, pihak keluarga akan menempuh jalur kekeluargaan. Yakni dengan menikahkan IF dengan M. “Namun, setelah hari raya kemarin, M malah kabur. Sampai sekarang, tidak diketahui keberadaannya,” jelasnya.

Usut diusut, ternyata bukan hanya M, yang melakukan persetubuhan tersebut. Karena, ada tiga orang lain yang melakukan hal yang sama.

Ip mengaku, adiknya bisa mudah dibujuk rayu, karena memang mengalami keterbelakangan mental atau disabilitas. “Ternyata setelah diusut lagi, ada tiga orang lain. Yakni S, T dan A. Bahkan ada yang sampai berulang-ulang. Ada yang di rumah terlapor, ada di pekarangan juga,” sambungnya.

Kanitreskrim Polsek Beji, Ipda Tatok menyampaikan, perkara yang dilaporkan tersebut, masih diproses. Perkara tersebut memang tak mudah, lantaran terganjal korban yang alami keterbelakangan mental. “Kami masih minta hasil dari psikiater. Apakah nanti pembicaraan korban bisa dipercaya atau tidak untuk bahan persidangan,” jelas Tatok.

Ia meyakinkan, kalau pihak kepolisian bersikap hati-hati. Karena jangan sampai, penanganan yang dilakukan, salah sasaran. “Kami tidak ingin menangkap orang yang salah. Kasus ini memang membutuhkan waktu, karena korban mengalami gangguan. Berbeda kalau normal. Tentunya akan lebih mudah,” jelasnya. (one/mie)