Mulai 20 September, PKL Dilarang Jualan di Jalan Cokroaminoto

KANIGARAN – Pemkot Probolinggo akhirnya mengeluarkan larangan berjualan bagi pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jalan Cokroaminoto di Kelurahan/Kecamatan Kanigaran. Larangan itu akan berlaku efektif mulai 20 September.

Sebagai langkah awal, sejak Kamis (13/9) malam, dilakukan sosialisasi oleh Satpol PP. Sosialisasi berupa pemasangan sejumlah banner yang berisi pemberitahuan tentang larangan berjualan di Jalan Cokroaminoto. Baik itu berjualan di trotoar, maupun di bahu jalan.

Kasatpol PP Kota Probolinggo Agus Affendi mengatakan, pemasangan banner dilakukan sejak Kamis (13/9) malam. Tujuannya, menyosialisasikan agar PKL tak berjualan di sepanjang Jl Cokroaminoto.

Larangan itu menurutnya, berlaku efektif mulai 20 September 2018. Artinya, pelanggaran yang dilakukan sejak tanggal 20 September akan dikenai sanksi tegas. Sejak 20 September itu pula, operasi penertiban akan rutin dilakukan untuk memastikan tidak ada PKL yang berjualan di sepanjang Jalan Cokroaminoto.

“Operasi penertiban akan kami lakukan sampai dengan batas tak ditentukan. jika didapati ada yang melanggar, maka akan ditindak tegas. Salah satunya, barang jualan akan disita,” terangnya.

Bahkan, bisa saja menurut Agus, barang yang disita tidak dikembalikan pada penjualnya. Atau akan menjadi aset pemkot. Namun, hal itu menurutnya masih akan dikaji lagi.

Selain memasang banner sosialisasi, sejak Jumat (14/9) Satpol PP juga memberikan surat edaran kepada PKL tentang larangan berjualan di Jalan Cokroaminoto. “Senin (17/9) besok, kami akan keluarkan surat edaran kedua. Dan, Rabu (19/9), kami berikan surat edaran ketiga. Ketika upaya itu sudah dilakukan, maka mulai tanggal 20 September, tak ada alasan lagi PKL bilang tidak tahu,” tambahnya.

Ditambahkan Agus, larangan berjualan di trotoar dan bahu jalan bagi PKL, tidak hanya dilakukan di Jalan Cokroaminoto. Namun, juga akan dilakukan di jalan lain.

Namun, saat ini fokus pemkot yaitu menata Jalan Cokroaminoto lebih dulu. “Ini akan dilakukan bertahap. Nantinya di jalan lain akan diberlakukan aturan yang sama. Untuk sementara, kami fokus di Jalan Cokroaminoto dulu,” bebernya.

Agus pun minta kerja sama para PKL agar memahami aturan yang ada. “Jika alasan mereka mencari rezeki untuk makan, kami juga. Jika kami tidak menjalankan tugas dengan baik, terus bagaiamana?” tandas Agus.

Sementara itu, seorang pedagang buah di Jalan Cokroaminoto mengaku keberatan dengan aturan itu. Apalagi, dirinya sudah lama berjualan di sana.

Bahkan, dirinya menuruti permintaan pemkot. Yang mulanya berjualan di sebelah kiri, dipindahkan ke kanan (barat) agar tertata rapi. “Kalau tidak boleh jualan di sini, kami akan jualan di mana lagi,” tutur pedagang buah yang enggan namanya disebutkan itu. (rpd/hn/mie)