Inilah Siswa SMPN 5 yang Mampu Hasilkan Karya 3 Novel dan Buku

Siswa-siswi di SMPN 5 Probolinggo ini begitu cemerlang. Di usianya yang masih muda sudah berhasil menelurkan karya novel dan buku kumpulan cerita pendek. Karya itu dibuat hanya dalam waktu 3 bulan.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Kecil-kecil cabe rawit. Mungkin julukan ini pantas untuk disematkan pada 5 siswa SMPN 5. Meski masih remaja, mereka telah menghasilkan karya berupa novel. Mereka adalah siswa yang sehari-harinya mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik dan karya ilmiah remaja di sekolah yang berlokasi di Jalan Cokroaminoto, Kota Probolinggo.

Lima novel tersebut antara lain berjudul Family karya Yusuf Yuaniar; Under The Sun karya Rossa Febyola; Gusar Kebisuan karya Retnaning Dwi Wulandari; Senja di Penghujung Waktu karya Rana Salsabil; dan Ku Ingin Seperti Dulu karya Wahyu Tiara Kusuma Dewi.

Ke-5 karya tersebut Sabtu lalu (22/9) di-launching bekerja sama dengan Komunitas Menulis (Komunlis) di sebuah toko buku di Jalan Suroyo. Dengan dihadiri sejumlah guru, wali murid, serta teman-teman sekolah, kegiatan launching buku tersebut berlangsung meriah.

Meskipun tampak malu-malu, 5 siswa yang menulis novel, berani untuk menceritakan karya yang dibuatnya. Saat itu juga ada sejumlah teman-temannya yang juga menulis kumpulan cerita pendek.

Seperti yang diungkapkan Retnaning Dwi Wulandari, siswi kelas IX ini menulis novel berjudul Gusar Kebisuan. Karya pertama Naning –sapaan akrabnya- menceritakan tentang persoalan ayah dan anak gadisnya.

“Karya ini menceritakan gonjang-ganjing hubungan ayah dan anak. Gadis Jawa bernama Ajeng yang punya ayah yang protektif, pendiam. Di sini Ajeng memiliki sikap menentang pada ayahnya,” ujarnya.

Cerita ini memiliki akhir yang sedih. Ketika Ajeng yang diketahui meninggal karena sakit Leukimia. “Dalam cerita ini betapa orang tua begitu sayang pada putrinya,” ujarnya.

Lain halnya dengan cerita yang dituliskan oleh Wahyu Tiara Kusuma Devi. Kisah yang ditulis Devi ini juga bertutur tentang sebuah keluarga, namun memiliki kisah happy ending.

“Ceritanya tentang seorang gadis yang tumbuh di keluarga harmonis. Keluarga ini merupakan keluarga yang bahagia. Namun, kebahagiaan keluarga ini hilang karena kedua orang tuanya bercerai,” ujarnya.

Devi tidak menuturkan secara gamblang alur cerita dalam karya pertamanya ini. “Kalau penasaran dengan ceritanya silakan untuk dibeli dan dibaca,” ujarnya sambil berpromosi. Novel yang ditulis Devi berjudul Ku Ingin Seperti Dulu.

Ada juga Rossa Febyola menulis novel berjudul Under The Sun. Karya ini tentang seorang gadis penderita kanker. “Bagaimana perjuangan penderita kanker bernama Feby yang berjuang melawan penyakitnya dan ditemani sahabatnya sesama penderita kanker. Sahabatnya meninggal sebelum Feby sembuh sehingga membuat Feby depresi,” ujarnya.

Selain itu, ada juga karya yang ditulis Rana Salsabil yang berjudul Senja di Penghujung Waktu. Karya ini bercerita tentang seorang anak perempuan diberi nama Senja.

“Cerita dalam karya ini menuturkan tentang Senja. Orang tuanya memilihkan nama Senja karena mereka menyukai senja. Namun, gadis ini kesepian karena orang tuanya sibuk dengan aktivitas masing-masing,” ujarnya.

Dari 5 novel yang di-launching, salah satunya dihasilkan oleh siswa laki-laki. Karya yang berjudul Family ini ditulis oleh Yusuf Yuaniar.

“Buku pertama yang dibuat terdiri atas 9 cerita. Tentang perjuangan seorang anak yang harus menghadapi rintangan dalam hidupnya,” ujarnya.

Tak sekadar mengulas karya. Dalam launching juga ada diskusi dengan peserta. Dalam diskusi inilah diketahui bahwa karya yang dibuat, tidak dengan instan.

Seperti yang diungkapkan Yusuf yang mengatakan, bahwa diperlukan waktu 2-3 bulan untuk menyelesaikan karya menjadi sebuah novel. “Ada program setiap siswa untuk membuat karya sendiri. Jika ada siswa yang memenuhi batas untuk jadi novel, maka dijadikan 1 karya untuk novel. Tapi, jika belum memenuhi standar untuk novel, maka dijadikan satu kumpulan cerita,” jelasnya.

Selain meluncurkan novel, memang ada juga buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh 10 siswa ekstrakurikuler Jurnalistik dan KIR SMPN 5. Kesepuluh penulis tersebut adalah Putri Desfiryal, Alsyna Hana Salsabila Pradigta, Firza Widadun Nisriro, Nadia Nur Insani Taqwa, Izzah Rofiatun Nabila, Nadiva Shabrina Putri, Candra Wardani, Veronika Nur Hasyim, Himayatul Maghfiroh, dan Amalia Nilam Cahyaning Auliya. Mereka merupakan siswa kelas VIII dan IX.

Di antara kesepuluh karya tersebut, ada satu judul yang istimewa yakni Sahabat Dunia karya Putri Desfiryal. Sahabat Dunia sekaligus menjadi nama baru bagi komunitas penulis di SMP Negeri 5 Probolinggo serta judul tema dalam bedah buku.

Salah satu penulis buku kumpulan cerpen yaitu Himayatul Maghfiroh mengungkapkan bahwa ada kalanya kehabisan ide untuk menulis. “Kalau kehabisan ide biasanya cerita ke Pak Sandi (pembina ekstrakurikuler Jurnalistik dan KIR di SMPN 5) untuk meminta masukan. Tapi, ada juga minta masukan dari teman. Karya yang kami buat diminta untuk dibaca dan mendengarkan usulan-usulan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Subaidah, kepala SMPN 5 Kota Probolinggo mengaku bersyukur bahwa mimpi-mimpi siswa terwujud. “Karena setiap orang diwajibkan untuk memiliki keinginan bermimpi. Setelah bermimpi ada saatnya untuk bangun dari tidur, kemudian tidur lagi. Tidak beraktivitas apa-apa, maka mimpi itu tidak akan jadi apa-apa,”

“Namun jika kami bermimpi, saat bangun dan mewujudkan dalam aktivitas nyata dari apa yang kita impikan, Insya Allah itu bisa memacu,” ujarnya.

Zubaidah mencontohkan dari kegiatan menulis. “Dalam benak ada berbagai macam ide, tapi jika tanganmu tidak menggerakkan pena, tidak mengetik di keypad untuk mengeluarkan ide-ide tersebut, maka ide kalian tidak akan muncul,” pesan Zubaidah. (fun)