Inilah Kelompok Kalibuntu Sejahtera 1, Peraih Juara Inovasi Teknologi Provinsi Jatim 2018

Kelompok tambak garam Kalibuntu Sejahtera I menjadi juara I dalam penganugerahan Inovasi Teknologi Provinsi Jatim 2018. Dengan inovasi Rumah Produksi Garam (RPG) Sistem On-off “Katup Gadis” atau Buka Tutup Garam Jadi Super, mereka keluar sebagai juara kategori bidang agribisnis.

ARIF MASHUDI, Kraksaan

Kabupaten Probolinggo kembali bakal mewakili Jawa Timur dalam lomba inovasi teknologi tingkat nasional. Sebab, kelompok tambak garam yang ada di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, itu keluar sebagai juara I kategori bidang agribisnis 2018.

INOVASI: Rumah produksi garam sistem on-off yang dibuat Kelompok Kalibuntu Sejahtera 1 yang diganjar penghargaan oleh gubernur. (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Pada 12 Oktober lalu, Suparyono, ketua kelompok Kalibuntu Sejahtera I bersama Bupati Probolinggo menerima langsung penghargaan penganugerahan oleh Gubernur Jatim. Saat ditemui, Rabu (17/10), Suparyono tengah sibuk membuat rumah produksi garam sistem on-off.

Suparyono menceritakan, ia beserta kelompok tambak garam Kalibuntu Sejahtera I mulai memasang sistem garam on-off itu pada April 2017 lalu. Dimana, kelompoknya memanfaatkan lahan tambak seluas ukuran 6×10 meter untuk dipasang bambu.

Selain itu, alasan tambak itu juga dipasang geo membran atau sejenis terpal. “Alhamdulillah, kami bisa memanfaatkan sistem garam on-off ini untuk mendongkrak panen garam di saat harga garam tinggi,” katanya.

Saat itu, dikatakan Suparyono, kondisi harga garam tinggi. Kebetulan, musim hujan produksi garam semakin anjlok dan langka. Namun, dengan sistem garam on-off, dirinya bersama kelompoknya berhasil memproduksi garam tanpa harus bergantung pada musim. Sebab, meski musim hujan, dirinya tetap bisa produksi dengan baik. Saat hendak hujan, lahan tambak ditutup dengan plastik yang telah disiapkan.

Kalau musim kemarau sekali panen, tambah seluas sekitar 10×30, bisa produksi 20 sampai 25 ton. Jika musim hujan, bisa produksi sekitar 15-20 ton. Jadi, selisihnya tidak terlalu tinggi. Beda saat tidak menggunakan sistem on-off, musim hujan produksi pasti anjlok.

Suparyono mengungkapkan, banyak kelebihan yang dirasakan saat memanfaatkan sistem garam on-off. Terutama pada anggota kelompoknya yang kini berjumlah 9 orang. Ia dan anggota kelompoknya memiliki semangat untuk menularkan inovasi ke semua daerah. Supaya, tidak ada lagi impor garam masuk di Indonesia. Karena dengan sistem on-off, tidak ada lagi kelangkaan garam.

“Kami ingin mendapatkan bimbingan untuk mengikuti lomba tingkat nasional. Alhamdulillah, inovasi kami sudah ditiru dan dipakai oleh kelompok tambak garam lainnya. Kami ingin tingkat nasional bisa menerapkan ini, supaya tidak ada lagi impor garam,” terangnya.

Cara kerja sistem garam on-off, dikatakan Suparyono, sangatlah mudah. Dimana dengan modal sekitar 1,5 juta, sudah dapat membuat satu petak bidang sistem garam on-off. Kemudian, dengan pekerja dua ataupun satu orang, bisa mengerjakan sistem garam on-off tersebut.

Petani sekitar pukul 17.00, tambak garam ditutup atau off. Kemudian, tiap pagi paling tidak pukul 06.00, kembali dibuka atau on. “Kalau posisi sudah terlihat mendung, meski belum pukul 17.00, kami tutup. Jadi, bebas dari dampak turun hujan. Tidur malam hari juga tenang, tidak khawatir ada turun hujan atau tidak,” terangnya. (rf/fun)