Ada Uji Coba Rujukan Berjenjang, Jumlah Pasien RSUD dr Saleh Turun

PROBOLINGGO – Uji coba regulasi anyar: sistem rujukan berjenjang berpengaruh terhadap pendapatan RSUD Mohamad Saleh. Terbukti, rumah sakit tipe B itu satu bulan terakhir mengalami penurunan jumlah pasien pengunjung.

Hal itu disampaikan Kasi Pelayanan Medik (Yanmed) Agus Tri Wahyudi. Ia menegaskan, bahwa penurunan jumlah pasien pengunjung yang ada di rumah sakit berkisar 50 persen. Tentunya, hal itu akan berdampak lurus dengan pendapatan rumah sakit. Meskipun ia tak tahu betul berapa rupiah jumlah penurunan yang ada.

“Untuk jumlahnya saya kurang tahu. Namun yang jelas, jumlah pasien pengunjung menurun hingga 50 persen,” terangnya. Kendati itu, pihak rumah sakit tak bisa berbuat banyak, mengingat rumah sakit hanya menjalankan tugas pelayanan saja. Maklum, yang mengatur pasien dari pihak BPJS pusat.

“Kami sifatnya hanya pelayanan, jadi terkait dengan keputusan itu kami serahkan pada pihak BPJS. Yang jelas jika ada pasien, baik umum ataupun rujukan kami tetap layani dengan baik,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kabid Pelayanan Medis Immamatus S. Menurutnya, saat ini pusat sedang melakukan koordinasi lanjutan berkaitan dengan rujukan berjenjang itu. Mengingat untuk masalah zonasi kewilayahan masih jadi persoalan.

Bahkan, tak jarang orang memilih bayar sendiri atau memilih menjadi pasien umum, dibandingkan harus mengikuti aturan tersebut. “Di pusat juga sedang digodok, kasihan juga jika warga kota, namun harus dirujuk ke Tongas, Bangil, atau RS lainya tipe D yang jaraknya jauh dari tempat tinggalnya,” terangnya.

Bahkan, dari data satu bulan terakhir, untuk rawat jalan pada bulan Agustus capai 8 ribu pasien, bulan September menurun jadi 7 ribu pasien. “Untuk bulan Oktober masih berjalan, jadi belum diketahui hitunganya sampai berapa untuk pasien yang rawat jalan,” bebernya.

Terpisah, Ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo Agus Riyanto meminta kebijakan itu dipertimbangkan. “Kita berbicara di Probolinggo itu sendiri, saya rasa tujuanya baik, agar tidak sampai overload sehingga pasien tidak terurus dengan baik. Tapi, yang membuat heran itu warga kota harus dirujuk ke RS Tongas,” katanya.

“Saya pikir, pemerintah pusat tidak tahu kondisi kewilayahan. Jadi, jika memang harus dirujuk, maka perlu diperhitungkan masalah zonasi atau letak wilayahnya,” bebernya. Pria yang akrab disapa Agus itu juga menyinggung kesiapan puskesmas. Mengingat puskesmas juga harus siap menerima tamu (pasien) yang akan datang. (rpd/rf)