Bahaya, Sebulan Ada 3 Warga Terperosok Limbah Pabrik Gula

MEMBAHAYAKAN: Kondisi tumpukan limbah pabrik gula di Desa Curahsawo, Gending yang sebulan terakhir menelan 3 korban yang alami luka usai terperosok ke tumpukan itu. (Mukhamad Rosyidi/Radar Bromo)

Related Post

GENDING – Pembuangan limbah pabrik gula di Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, sudah tiga kali memakan korban. Rata-rata mereka terperosok ke dalam limbah yang disebut abu ketel tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh warga setempat yakni Nur Astuti. Menurutnya, limbah yang ada di depan rumahnya itu memang membahayakan.

“Sudah tiga kali ini ada yang terkena limbah. Terakhir yaitu yang mau mancing beberapa hari lalu itu. Katanya sih terperosok terus kakinya masuk ke tumpukan limbah,” terangnya.

Lebih lanjut, menurutnya, limbah itu sudah beberapa tahun lalu dibuang di daerah itu. Namun, efeknya masih ada. Yakni, abu ketel itu masih mengeluarkan panas.

Sehingga, membahayakan bagi warga. Menurut Astuti, meskipun bahaya tetapi tidak ada rambu atau papan peringatan yang ada di lokasi.

“Tidak ada peringatannya. Itu, sudah dari dulu seperti itu. Jadi, ya tidak tahu kalau itu apa dan lain sebagainya,” ujarnya. Limbah yang ada di depan rumahnya itu sendiri sepengetahuannya, masih terus menyimpan hawa panas. Bahkan, rumput yang ada di atasnya yang semula hijau mengering dan terbakar.

“Itu ada apinya. Tidak tahu api itu karena apa. Tetapi, saat terkena terik matahari, api itu membakar rumputnya. Agar anak saya tidak main ke lahan itu (limbah, Red), suami saya menyurati yang punya tanah dan akhirnya dipagar,” terangnya.

Pantauan di lokasi limbah, terlihat banyak rumput yang menghitam. Rumput itu seperti habis terbakar. Antara lahan penuh limbah satu dan lainnya terpisah sepetak sawah.

Selain itu, kedalaman tumpukan limbah abu ketel itu hampir sekitar dua meter. Sehingga, jika ada warga yang jatuh ke dalam tumpukan limbah, membahayakan nyawa. Sebab, akan terkubur dan terpanggang panasnya limbah.

Sementara itu, Manajer Pengelolaan Pabrik Gula Wonolangan Yus Asmoro mengatakan, limbah abu ketel tersebut memang masih aktif. Karena itu, pihaknya akan menimbun lahan itu.

“Sehingga bisa dipadatkan. Ketinggian aman yakni sekitar 30 sentimeter untuk tumpukannya. Kalau setinggi yang ada di lokasi itu memang tidak aman,” jelasnya.

Menurutnya, limbah abu ketel itu sendiri masih mengandung unsur gula. Sehingga, ketika terkena sinar matahari akan terjadi semacam fermentasi.

Nah, dari proses itulah abu ketel itu menyimpan panas. “Jadi, panasnya itu ada di dalam. Oleh karena itu seperti yang saya bilang tadi, akan saya ratakan agar tidak membahayakan. Selain itu, juga akan kami berikan pagar agar tidak membahayakan warga,” terangnya.

Yus –sapaannya- menjelaskan, mengenai adanya tiga kali insiden itu pihaknya masih belum mengetahui. Sebab, baru satu kejadian ini yang ada laporan kepada pihaknya. “Belum tahu kalau sudah tiga kali kejadian. Yang kami tahu yang terakhir ini karena ada yang laporan,” jelasnya. (sid/rf/mie)