Kedatangan Menteri Molor 3,5 Jam, Santri Kepanasan, lalu Bertumbangan

PAITON – Kunjungan menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Puji Astuti ke Ponpes Nurul Jadid di Paiton, Kabupaten Probolinggo, sempat diwarnai insiden. Para santri yang menunggu lama kedatangan menteri kepanasan hingga akhirnya bertumbangan.

KEPANASAN: Salah satu santriwati Ponpes Nurul Jadid pingsan saat menunggu Menteri Susi selama 3,5 jam lebih. Mereka diduga kepanasan. (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, para santri sudah berada di halaman kompleks kampus Nurul Jadid, sekitar pukul 06.00. Awalnya, mereka duduk rapi. Beberapa jam kemudian, terik matahari mulai menyengat.

Tidak sedikit santriwati yang menutup kepala dan wajahnya menggunakan kertas kardus. Ada pula santri yang memilih menepi dan duduk di bawah banner supaya tidak kepanasan.

Hingga pukul 09.00, menteri Susi belum juga datang. Saat itulah, beberapa santriwati pingsan karena tidak kuat menahan terik matahari. ”Dia (santriwati) pingsan karena tidak kuat. Mungkin juga karena belum sarapan,” kata salah satu panitia yang enggan disebut namanya.

Salah satu santri, Abdul Bagas mengaku, dirinya dan temannya sudah ada di halaman mulai pukul 06.00. Tapi, ternyata Menteri baru datang pukul 09.45.

Meskipun sempat kecewa, namun kecewa itu menurutnya tergantikan karena bisa bertemu langsung dengan menteri Susi Puji Astuti. Termasuk bertemu dengan putra Presiden RI Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka. “Sudah nunggu tadi pukul 06.00. Tapi tidak apa-apa. Kami tetap sambut gembira tadi,” ujarnya.

Saat sambutan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Puji Astuti tak lupa meminta maaf kepada para santri yang hadir. Sebab, ribuan santri rela menunggu dan panas-panasan.

“Saya minta maaf kepada santri dan santriwati. Karena saya datang telat dan tidak sesuai dengan jadwal. Saya berangkat dari Bali itu pukul 07.00. Jadi, ada salah komunikasi,” katanya.

Gibran sendiri membawa oleh-oleh dari Solo, Jawa Tengah, berupa tiga buah jaket yang dibagikan pada santri yang beruntung. Syaratnya, harus bisa bertanya dengan baik tentang cara menjadi wirausahawan.

“Saya bawa oleh-oleh dari Solo untuk kalian. Ini tidak gratis. Ini tidak gratis. Saya bagikan kepada santri dan santriwati yang bertanya kepada saya tentang wirausaha,” katanya. (mas/hn)