Merasa Ditipu Teman Seorganisasi, 7 Orang Ini Lapor Polisi

MAYANGAN – Sifti Fitria, 29, warga Kelurahan/Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, tak bisa menyembunyikan kegeramannya. Pasalnya, ia ditipu oleh teman seorganisasinya.

Sifti tidak sendiri. Ia bersama 7 orang lain yang juga melaporkan dugaan tindak pidana penipuan tersebut. Jumat (2/11), Sifti dan korban lainnya mendatangi ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Probolinggo Kota.

Mereka melaporkan WP, 29, warga Kota Probolinggo. Sifti mengaku kenal dengan korban karena sama-sama pengurus DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kota setempat.

Saat itu, WP mengaku sebagai pegawai freelance Badan Pertanahan Nasional (BPN). WP juga mengaku sering mengurus balik nama sertifikat tanah.

WP lantas meminta bantuan Sifti untuk mencari pemilik tanah yang hendak balik nama. Modusnya, WP bisa membantu mempercepat pengurusan balik nama. Sifti percaya saja dengan terduga pelaku. Bahkan, ketika dimintai biaya Rp 1 juta per sertifikat, Sifti tak protes. Padahal, normalnya menurut Sifti, biayanya hanya Rp 350 ribu.

“Dia tidak bilang selesainya kapan. Yang jelas dia mengatakan lebih cepat dibanding biasanya yang makan waktu 6 bulan. Karena saya percaya dan dia juga mengatasnamakan KNPI, maka saya akhirnya juga mencari teman yang mau balik nama sertifikat tanahnya. Setidaknya, ada 25 orang. Belum lagi yang lainnya,” jelasnya.

Sayangnya, setelah lebih dari enam bulan, tak ada kabar berita dari WP. Ketika dihubungi via WhatsApp, terlapor disebutkan hanya mengumbar janji. Padahal, pengurusan sertifikat itu sudah sejak 2017 lalu.

Belakangan, WP berjanji sertifikat itu rampung awal September 2018. Namun, janji tinggallah janji. Hingga Jumat (2/11) tak kunjung terealisasi.

Lantaran belum ada kabar, maka ia beserta tujuh rekannya yang merasa ditipu itu langsung melapor ke polisi. “Saya sudah cari rumahnya, tapi dia ngasih alamatnya tidak benar. Bilangnya di Kelurahan Jati, kemudian di Rusunawa, dan bebebrapa tempat lainnya,” katanya.

Selain jadi korban penipuan, korban juga tak enak dengan rekan-rekannya yang lain. Pasalnya, Sifti merasa turut andil membuat teman-temannya rugi. Akibat ulahnya, sekitar 25 orang dengan 25 sertifikat mengalami kerugian.

Hal senada juga diungkapkan Wiwik Hidayati, 32, warga Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kota Probolinggo. Menurutnya, awal September lalu ia bersama dengan teman-temannya melaporkan ke pihak kepolisian. Namun, karena dia berjanji akan merampungkan pertengahan bulan September, maka kasus tersebut tak diproses.

Nah, karena kali ini sudah lebih dari jangka waktu yang telah dijanjikan oleh WP, WP tidak bisa ditemui. Padahal, WP sudah menerima uang balik nama sertifikat itu. Dengan nominal tiap sertifikat senilai Rp 1 juta.

Bahkan, dalam aksinya, lanjut Wiwik, WP dinilai lihai dalam berkata-kata. Lebih lagi WP bersama dengan suami sirinya, KM. WP bersama dengan KM menemui dirinya dengan menggunakan sebuah mobil. WP mengaku mobil yang digunakanya itu dipercayakan padanya. Padahal, setelah ditelusuri, mobil itu merupakan mobil sewaan.

“Saya ada empat sertifikat yang mau balik nama. Jadi, saya bayar Rp 4 juta, kuintansi yang ditandatanganinya juga ada. Dia bersama dengan suami meyakinkan saya. Kemudian ia meminta fotokopi sertifikat. Ia kembali berjanji, sertifikat yang lama akan diminta dan ditukar dengan sertifikat yang baru,” jelas Wiwik.

Kasatreskrim Polres Probolinggo Kota AKP Nanang Fendi Dwi Susanto mengatakan, pihaknya masih mendalami laporan itu. “Laporannya kami terima dan kami pelajari dulu sebelum dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” tandasnya.

Terpisah, Muchlas Kurniawan, ketua DPD KNPI Kota Probolinggo membenarkan jika WP adalah anggotanya. “Tapi, kasus ini tidak ada kaitannya dengan KNPI. Ini persoalan pribadi,” tegasnya. (rpd/rf)