Gudang Ponpes Terbakar, Begini Kepanikan Siswa MTs Riyadlus Sholihin

Kepanikan tergambar dari wajah siswa-siswi MTs Riyadlus Sholihin. Terutama kelas 1A dan 1B. Bagaimana tidak, ruangan mereka hanya dipisah tembok dengan gudang yang terbakar. Beruntung mereka sigap. Dengan dibantu guru, seluruh siswa akhirnya bisa keluar dari kelas.

MUKHAMAD ROSYIDI, Kademangan

Jarum jam menunjukkan pukul 10.30. Kegiatan belajar mengajar (KBM) di MTs Riyadlus Sholihin, terutama di kelas 1A dan 1B berjalan seperti biasanya. Namun, beberapa saat kemudian, terdengar teriakan dari orang-orang di luar kelas. Teriakan itulah yang membuat suasana KBM kacau. Guru dan murid pun panik.

“Kebakaran, ada kebakaran….,” begitu teriakan santri dari luar kelas. Siswa dan guru pun keluar kelas untuk menyelamatkan diri. Beruntung, kawasan Pesantren Riyadlus Sholihin cukup luas. Sehingga, tidak sulit bagi peserta didik mencapai lokasi aman. Saat menyadari ada kebakaran itulah, siswa baru paham kenapa ruangan kelas lebih panas dari biasanya.

Dan, pelajaran pun terus dilakukan. Nah, baru saat ada yang berteriak kebakaran dari luar ruangan, mereka baru tahu bahwa panasnya ruangan itu diakibatkan oleh gudang di sebelah timur ruangan mereka terbakar. Sehingga, kemudian para siswa diimbau untuk keluar ruangan.

Ya, kedua kelas itu adalah yang langsung berdempetan dengan bangunan gudang yang terbakar. Sehingga, ada kepanikan yang timbul saat itu.

Seperti yang dirasakan oleh Muhammad Iqbal, 13, siswa kelas 1A MTs Riyadlus Sholihin, menurutnya, saat kejadian ia bersama dengan teman-temannya sedang mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. “Jadi, saat pelajaran itu kebakarannya. Karena api langsung membesar, kemudian kami keluar bersama-sama karena takut,” ujarnya saat ditemui.

Menurutnya, tidak ada yang tahu apa penyebab kebakaran itu. Sebab, saat kejadian meskipun ruangannya dekat dengan gudang yang terbakar, mereka serius menimba ilmu. Dan, ia baru tahu ketika ada teriakan kebakaran dari santri lain di luar. “Iya, kurang tahu kenapa kok terbakar. Kami juga tidak mendengar suara-suara ketika kebakaran itu terjadi,” jelasnya.

Sementara itu, kelas terdekat sibuk mengamankan diri agar tidak terkena imbas dari kebakaran. Sementara di luar sudah banyak santri yang membawa ember berisi air. Setelah itu, santri bahu-membahu menyiram api secara manual ke gudang pesantren. Sayang sekali, hal itu tak terlalu signifikan untuk memadamkan api.

Bahkan, saat mencoba dibuka pintu gudang oleh salah seorang santri, dari dalam terlihat menyembur api. Karenanya tidak ada yang berani untuk mencoba masuk ke dalam.

Basori, 24, salah seorang dewan guru mengatakan, usaha yang dilakukan oleh pihaknya sangat sia-sia. Selain angin yang memang berembus kencang, isi gudang adalah barang yang mudah terbakar. Sehingga, dengan cepat api membesar.

“Di depan itu kan ada kamar mandi, nah anak-anak mengambil air dari situ. Tetapi ya begitu, percuma saja apinya tidak mau padam,” ungkapnya.

Menurutnya, santri-santri yang melakukan pemadaman berjalan sekitar 15 menitan. Sebab, setelah itu ada mobil pemadam yang datang. “Sekitar 15 menitan itu dicoba untuk memadamkan apinya. Untung kemudian ada pemadam kebakaran yang datang untuk membantu,” katanya.

Lebih lanjut, yang melakukan pemadaman sebelum pemadam datang adalah santri yang dewasa. Sedangkan untuk yang masih kecil tidak diikutsertakan. Mereka dievakuasi dan tidak boleh mendekat ke tempat kejadian. “Untuk santri yang masih kecil ya kami pinggirkan dan dilarang mendekat ke lokasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pondok Riyadlus Sholihin Hafidz Ahmad Salim menjelaskan, jika dirinci, di dalam gudang itu ada beberapa barang. Mulai dari mesin pencacah sampah, tabung gas, bangku, dan lainnya. Semuanya ludes terbakar.

“Memang dindingnya terbuat dari tripleks. Jadi, mudah terbakar. Tetapi, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Soalnya gudang setiap harinya dikunci,” jelasnya.

Dari kejadian ini, kerugian ditaksir berkisar ratusan juta. Hal itu, lantaran tidak ada sisa dari barang yang terbakar. “Yang paling mahal kayaknya mesin pencacahnya itu, itu tidak sempat tertolong. Jadi, kemungkinan seratusan juta itu kerugiannya,” kata Hafidz. (rf)