Teatrikalkan Perlawanan Melawan Penjajah di Lereng Bromo

SUKAPURA – Masyarakat dan pemuda Desa/Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jumat (9/11) menggelar apel dan teatrikal menyambut Hari Pahlawan. Selain apel, masyarakat di sana kemudian mempertontonkan aksi teatrikal perang melawan penjajah di depan vila Djarum, Kecamatan Sukapura.

Acara tersebut dimulai dengan apel. Bertindak sebagai pembina apel yakni Camat Sukapura Yulius Christian. Dalam amanatnya, Yulius mengatakan pentingnya untuk mengingat jasa para pahlawan. Karena berkat jasa para pahlawanlah Indonesia bisa mencapai kemerdekaannya.

“Jangan sampai kita generasi muda ini melupakan jasa para pahlawan. Karena berkat jasa mereka dan pertolongan Tuhan, maka Indonesia bisa merdeka,” ujarnya.  Menurutnya, untuk Hari Pahlawan kali ini yang terpeting adalah menjaga persatuan dan kesatuan. Caranya, yaitu saling menghargai antara umat beragama. Sebab jika tidak, maka yang dipertaruhkan adalah keutuhan umat.

“Karenanya jangan sampai terprovokasi oleh hal-hal yang belum tentu kebenarannya. Harus lebih teliti dan harus bisa membedakan antara yang benar dan yang tidak benar. Terlebih juga harus menggelorakan semangat Hari Pahlawan. Mari terus bekerja dan berinovasi memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara, sesuai dengan potensi kita masing masing. Tanamkan terus semangat pahlawan dalam dada,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi para pemuda Desa Sukapura. Sebab, dalam kegiatan pagi itu mereka menyumbangkan teatrikal yang menceritakan perebutan Surabaya dari pada penjajah. “Apa yang dilakukan pemuda Sukapura ini patut diapresiasi. Karena ikut memberikan pelajaran bagaimana kita harus menghargai pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan,” tuturnya.

Setelah apel pagi itu selesai, baru dilanjut dengan agenda teatrikal. Yang mana dalam hal ini diperankan semua oleh pemuda Sukapura. Dalam teatrikal itu, mereka memerankan perebutan Surabaya dalam 10 November 1945.

Dalam teatrikal itu juga menceritakan betapa kejamnya para penjajah memperlakukan para petani Indonesia pada masa itu. karena melihat hal itu, pemuda Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo melakukan perlawanan. Puncaknya, yakni penyobekan bendera Belanda. Yakni, merah, putih, biru. Dan, yang disobek yakni warna biru sehingga tinggal merah-putih saja.

Sutaji, 28, pemuda yang berkesempatan memerankan pemuda yang menyobek bendera Belanda mengaku sangat merinding ketika melakukan aksinya. Sebab, ia merasa benar-benar melakukannya pada masa itu dengan letusan petasan.

“Saya sangat merinding. Saya tidak menyangka bagai mana para pahlawan dulu merebut kemerdekaan itu. Ini di sini saja saya merinding sekali,” katanya. Teatrikal itu baru buyar setelah ada pembebasan tawanan. “Saya juga sangat merinding sekali. Saya di sini berperan sebagai Bung Tomo,” ujar Dodik, anggota Koramil Sukapura. (sid/rf/mie)