Sukses SMA Haf-Sa Zainul Hasan Genggong Raih Prestasi di Malaysia (2-Habis)

BERPRESTASI: Muhammad Inzah Kepala SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan BPPT Genggong beserta Dewi Lestari dan Rosyida Apriliya Mardiana saat ditemui di ruang ruang tekno terapan. (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Sempat disepelekan tim lain, tidak membuat keder tim Tekno Terapan SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan BPPT Genggong. Justru hal itu menjadi motivasi tersendiri untuk berprestasi di ajang Kuala Lumpur Engineering Science Fair (KLESF) International Challenge di Malaysia 2018. Hasilnya, mereka meraih juara terbaik ketiga.

ARIF MASHUDI, Pajarakan

Suasana pondok Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong, Rabu (7/11) lalu, berbeda dari biasanya. Ratusan santri terlihat berjajar berbaris memanjang dari pintu gerbang pondok, hingga menuju ke dalam kompleks pondok. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil van hitam berhenti di depan pintu gerbang pondok.

Dari dalam mobil kemudian keluar 4 orang, satu laki-laki, dan 3 perempuan. KH. Moh Hasan Mutawakkil Alalllah, pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong yang telah menunggu sedari tadi, bergegas menyambut rombongan tersebut.

Bahkan, mantan Ketua PWNU Jatim itu Ning Hj. Hasanatud Daroini, Dewan Pembina SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan BPPT Genggong, mengalungkan untaian bunga pada 4 orang tersebut. Empat orang itu siswa SMA Unggulan Haf-Sa yang baru saja datang dan mengukir prestasi internasional, di Malaysia.

Empat siswa itu kemudian diarak menuju Masjid Birrul Walidain yang berada di dalam kompleks pondok Hafshawaty. Mereka kemudian beramah tamah, serta berbagi cerita mengenai prestasi yang baru saja diraih.

Awal November ini memang menjadi momen istimewa bagi Pesantren Zainul Hasan Genggong. Sebab, santri pesantren setempat, berhasil meraih prestasi membanggakan dalam ajang Kuala Lumpur Engineering Science Fair (KLESF) International Challenge 2018 di negeri jiran Malaysia.

Mereka harus bersaing dengan 400 tim yang berasal dari 7 negara. Dua tim SMA Unggulan Haf-Sa merupakan wakil Indonesia bersama 14 tim lainnya. Ratusan tim lainnya, berasal dari Tiongkok, Hongkong, Thailand, Singapura, Filipina, dan Malaysia selaku tuan rumah.

Dua tim SMA Unggulan Haf-Sa berhak melaju ke KLESF, setelah sebelumnya meraih medali emas dan perak di tingkat nasional dalam ajang yang digelar SMA Lazuardi GIS, Depok, Jawa Barat pada September lalu.

Hasilnya, dalam kejuaraan yang digelar di Mines International Exhibition and Convention Centre (MIECC), Mines Wellness City, Seri Kembangan, Selangor itu, dua tim SMA Unggulan Haf-Sa menjadi tim terbaik ketiga dan berhak atas bronze medals (perunggu), uang pembinaan, dan sertifikat.

Selain inovasi smart parking system berbasis online (web), karya berupa prototype monitoring ketinggian air sungai berbasis mikrokontroller arduino nano, sebagai antisipasi dini banjir juga berhasil memikat juri.

Dewi Lestari, dari tim monitoring ketinggian air sungai mengatakan, KLESF berbeda dengan lomba yang pernah diikuti sebelumnya. Sebab, dalam ajang internasional tersebut, untuk presentasi maupun karya tulis, menggunakan Bahasa Inggris. Lomba sendiri juga dikemas dalam pameran yang terdiri dari ratusan stan.

“Pada hari pertama, Jumat (2/11), sebelum berangkat ke lokasi, prototype monitoring ketinggian air sungai ini, kita coba di hotel. Namun ada kendala, alatnya tidak berfungsi. Ternyata, ada kabel di trafo yang longgar,” katanya saat ditemui di ruang Tekno Terapan SMA Unggulan Haf-Sa, Kamis (7/11) lalu.

Namun, ia dan rekannya tidak patah arang, bersama tim kemudian ia menuju lokasi acara. Sebab, KLESF digelar mulai pukul 08.00-17.00 waktu setempat. Di stan, ia mencoba memperbaiki kabel tersebut. Namun, kabel tersebut justru copot. Berbekal dari pengalaman dan bimbingan sebelumnya, mereka akhirnya menyoder kabel tersebut.

Alhamdulillah bisa. Namun, masalah tidak hanya itu saja. Sensor ultrasonik untuk mendeteksi ketinggian air yang kita letakkan di atas wadah air, bengkok. Mungkin karena goncangan saat perjalanan, akhirnya kita perbaiki seperti semula,” ujar siswa 6 Oktober 2002.

Menurut siswa kelas XI IPA 2 itu, selain sensor ultrasonik yang copot, wadah untuk menampung air juga sempat mengalami masalah alias pecah pada satu sisi. Mereka pun memutar otak. Alat tersebut kemudian diselotip serapi mungkin. “Dalam KLESF, kita memang diberi waktu untuk memperbaiki dan merancang alat di stan, kita maksimalkan semuanya,” ujar siswa asal Situbondo itu.

Masih terngiang di hari pertama KLESF, saat itu, menurut Dewi, ada salah satu pembimbing dari tim Hongkong terlihat meremehkan, bahkan cenderung mengejek karyanya. Seperti belum dipasangnya banner pendukung karya di stan, hingga belum terisinya air di dalam wadah.

“Ia bertanya dalam bahasa Inggris, stannya kok tidak ada bannernya. Wadah air juga tidak ada airnya. Namun, kita tetap semangat,” katanya. Beberapa permasalahan tersebut akhirnya mereka tuntaskan. Mulai mengisi air hingga mencetak banner baru di Malaysia.

Di hari pertama itu, sejumlah pengunjung dari berbagai negara mampir melihat karya-karya yang ditampilkan di stan. Termasuk stan SMA Unggulan Haf-Sa. “Pertanyaan yang diutarakan oleh pengunjung kebanyakan bahasa Inggris. Alhamdulillah tidak ada kesulitan menjawabnya,” ungkapnya.

Saat yang mendebarkan pun tiba. Sabtu (3/11), selain pameran, hari kedua itu, tiap stan dikunjungi oleh tim juri untuk penilaian. Selain menilai karya tulis yang diketik dalam bahasa Inggris, masing-masing tim juga presentasi dalam bahasa Inggris, termasuk menjawab pertanyaan juri.

Alhamdulilah, sudah ada persiapan. Sebulan, mulai 1 Oktober kita dikarantina. Di dalamnya ada bimbingan bahasa Inggris, penulisan karya ilmiah, dan bimbingan terkait karya inovasi. Termasuk kita diuji publik pada 30 Oktober oleh PPNS, PENS Surabaya, dan penguji bahasa Inggris. Saat itu kita presentasi dalam bahasa Inggris,” katanya.

Minggu, (4/11) menjadi hari terakhir ajang KLESF 2018. Selain masih berlangsung pameran, hari ketiga itu merupakan agenda pengumuman juara. Sempat pesimistis di awal. Salah satu penyebabnya, selama pameran pengunjung banyak yang berkunjung ke stan tim negara lain.

“Apalagi kalau melihat stan dari tim Hongkong yang selalu ramai. Miniatur yang digunakan bagus dan menarik. Penataan kabelnya juga lebih rapi. Ini, jadi pengalaman dan bekal berharga bagi kami, agar ke depannya lebih baik lagi,” ujarnya.

Namun, rasa pesimistis itu berubah menjadi bahagia. Tatkala tim SMA Unggulan Haf-Sa diumumkan oleh juri meraih juara terbaik ketiga. Rasa haru bercampur bahagia, tak bisa mereka ungkapkan dalam kata-kata. “Karena refleks dan tidak menduga, mendengar pengumuman tersebut kita langsung meloncat,” ujarnya.

Atas keberhasilan tersebut, Dewi berharap, karya yang telah dikembangkan sejak setahun lalu itu, bisa dikembangkan di lokasi sebenarnya. Seperti di sungai dan Daerah Aliran Sungai (DAM). Dengan begitu, karya inovasi yang dihasilkan itu,memiliki manfaat bagi masyarakat.

Kepada pemerintah, Dewi berharap ada dukungan dari segi pendanaan untuk pengaplikasian karya inovasi itu. Sesuai dengan fungsinya, sebagai antisipasi dini banjir. “Ini adalah sebuah awal yang bisa kita aplikasikan di negeri sendiri. Harapannya ada support dari pemerintah,” katanya.

Sementara itu, Rosyida Apriliya Mardiana, rekan Dewi di tim SMA Unggulan Haf-Sa menguraikan, karya inovasi berupa prototype monitoring ketinggian air sungai untuk antisipasi dini banjir itu, menggunakan pemograman arduino nano. Prototype dirancang dengan 3 pintu air atau watergate. Pintu-pintu itu akan terbuka ketika air mencapai ketinggian yang telah ditentukan.

“Di prototype, pintu pertama kita program terbuka jika air menyentuh ketinggian 5-7 sentimeter. Pintu kedua 11-13 sentimeter, dan pintu ketiga ketinggian 17-19 sentimeter. Ketika pintu ketiga terbuka, sirine juga berbunyi. Berarti sudah siaga tiga. Ketinggian air juga akan muncul di LCD,” ujar siswa kelahiran 16 April 2003 itu.

Untuk mendeteksi ketinggian air, menurut Dian –panggilan akrabnya-, di atas wadah ditempatkan sebuah sensor ultrasonik HC-SR04. Sementara untuk membuka pintu, alat tersebut dilengkapi dengan motor DC, yang mengubah energi listrik menjadi energi gerak.

“Semua komponen tersebut diatur oleh mikrokontroller Mega 2560, istilahnya  ini sebagai otaknya,” ujar siswa asal Wonomerto, Kabupaten Probolinggo itu. “Selanjutnya, alat ini akan kami sempurnakan, akan kita koneksikan dengan internet. Jadi bisa diakses jarak jauh melalu web atau aplikasi online. Kita tidak boleh puas dengan prestasi. Kalau ingin sukses harus berinovasi dan melakukan perbaikan,” tutupnya. (rf)