Mengunjungi Umbul Ponggok, Desa Sukses Kelola Wisata Foto dalam Air

BUMDes unggulan Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sangat luar biasa. Dari yang awalnya desa miskin, kini punya pendapatan Rp 14,2 miliar per tahun.

—————

Siapa tidak tahu dengan Desa Ponggok? Desa ini menjadi desa percontohan desa-desa se-Indonesia. Hal itu karena Ponggok dianggap berhasil mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sehingga menjadi desa kaya.

Jumat (30/11) lalu, 14 kepala desa se-Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, melakan studi banding ke Desa Ponggok. Tujuannya sederhana. Yaitu ingin meniru keberhasilan salah satu desa di Jawa Tengah mengelola BUMDesnya.

Mereka berangkat Kamis (29/11) malam dan sampai di Ponggok sekitar pukul 07.30. Setibanya di lokasi, mereka disambut ramah oleh para perangkat desa setempat. Setelah itu, baru mereka dikumpulkan dalam satu ruangan yang akan menjadi tempat acara.

Di dalam ruangan yang ada di lantai dua kantor desa itu, ternyata bukan hanya dari Probolinggo, tetapi telah banyak dari daerah lain. Seperti Jawa Barat, Madiun, Blitar, serta juga dari luar Jawa. Mereka sama-sama ingin mendalami ilmu mengenai proses pengelolaan BUMDes hingga berhasil.

“Untuk mendapatkan keberhasilan dalam mengelola BUMdes ini tidak mudah. Butuh perjuangan. Selain itu, tidak semua orang pro terhadap ide itu. Baik dari internal dan eksternal ada yang kontra,” ujar Joko Winnarno, direktur utama BUMDes Ponggok mengawali pembicaraan.

Menurut pria yang akrab disapa Jokowin itu, Untuk membangun sebuah destinasi wisata yang saat ini digandrungi itu, prosesnya panjang. Mulai dari proses menggali potensi desa hingga potensi keberhasilan ketika dibangun. Tahapan itu semua dijalani dengan baik.

“Untuk prosesnya kami mulai pada 2013 lalu. Dan, saat itu belum ada dana desa. Tapi karena kami ingin maju, maka kami harus bisa mengubah. Jadi, saat itu kami melihat berlimpahnya air ini sebagai potensi. Dan, ini adalah sumber mata air yang sudah ada sejak zaman dulu,” ujarnya menjelaskan.

Nama Umbul Ponggok sendiri diambil dari nama desanya. Umbul adalah sumber mata air dan Ponggok adalah nama desa. Sehingga, kemudian nama itu yang dipakai dalam destinasi wisata unggulan yang menyajikan wisata bawah air itu. “Kami melihat sumber mata air yang dulu hanya dibuat sebagai tempat mandi warga ini harus mendatangkan wisatawan. Tetapi, jika itu hanya dibuat kolam renang biasa, maka tidak akan banyak wisatawan yang datang,” ungkapnya.

Ide yang digagas oleh Junaedi Mulyono itu juga melihat mengenai proyeksi mendatangkan wisatawan. Menurutnya, pada saat hendak membangun itu sasaran pasarnya adalah anak kuliahan. Sehingga, kemudian dapat ide untuk membuat snorkeling di air tawar.

“Kami ini di kelilingi oleh dua kota besar. Yaitu, Jogja dan Solo. Itu adalah mangsa pasar kami. Kami yang melihat potensi itu kemudian membangun sebuah destinasi baru yang tidak biasa. Yaitu, destinasi snorkeling. Dan, ternyata itu berhasil dan membawa desa kami maju sampai sekarang ini,” ungkapnya.

Dengan penghasilan yang mencapai belasan miliar itu, Desa Ponggok tidak lupa akan warganya. Dengan PADes itu, desa bisa mensejahterakan warganya. “Tentu jika Pak Presiden memiliki Kartu Indonesia Pintar, kami memiliki program Satu Kartu Keluarga Satu Sarjana. Jika Pak Presiden memiliki Kartu Indonesia Sehat, kami memiliki Jamkesedes,” tutur Junaedi, sapaan akrab kepala Desa Ponggok itu.

Selain itu, selain bisa menyejahterakan warganya, pihaknya juga menyejahterakan perangkat. Jika perangkat sejahtera, maka mereka akan bekerja melayani rakyat dengan sungguh-sungguh. “Ini adalah bentuk rasa syukur kami. Baik itu perangkat dan juga masyarakat yang ada di desa sejahtera semuanya. Juga ada santunan bagi warga tidak mampu atau fakir miskin. Inilah yang dinamakan kesejahteraan rakyat sesuai dengan undang-undang, ” tuturnya.

Untuk membangun sebuah prestasi yang diklaimnya baru jalan ini, butuh banyak sharing. Yaitu, dengan semua elemen masyarakat. Hal itu penting. “Tentunya setiap usaha ada pro dan kontra. Karena manusia hanya dilengkapi kedua tangan dan kedua tangan itu tidak bisa menutup seribu mulut yang kontra, maka saya gunakan kedua tangan itu untuk menutup telinga,” terangnya.

Agar memotivasi desa lain, Junaedi memberitahu berapa gaji para perangkat desanya. “Mau tahu berapa gaji kaur desa kami? Gajinya itu sekitar Rp 5 juta. Untuk RT insentifnya sebulan Rp 500 ribu. Untuk kades? hitung sendiri sudah,” jelasnya. (sid/rf)