Desa Ponggok Sulap Tanah Tak Produktif Jadi Pemandian dan Resto

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, memang istimewa. Selain Umbul Ponggok, Toko Desa, dan 8 unit usaha lainnya, ada unit usaha yang memanfaatkan tanah tidak produktif. Kini, di atas tanah itu berdiri pemandian dan juga restoran. Bahkan, pemandian yang diberi nama Ponggok Ciblon ini menyumbang Rp 1,4 miliar per tahun pada pendapatan desa.

—————–

Seperti halnya Toko Desa, lokasi Ponggok Ciblon tidak jauh dari kantor desa. Dari kantor desa dan unit usaha Toko Desa, lokasinya hanya terpisah oleh jalan raya. Untuk kantor desa dan Toko Desa berada di sebelah timur. sedangkan untuk Ponggok Ciblon berada di sebelah barat. Jaraknya mungkin hanya berkisar 5 meter dari kedua gedung itu.

Dari luar, tampak hanya rumah makan biasa. Namun, begitu masuk ke dalam, tampak gazebo, taman, dan juga tempat bermain bagi anak-anak. Jika masuk lebih dalam lagi, maka tampak kolam renang dengan air biru yang terlihat sejuk dipandang mata. Ponggok Ciblon sendiri sudah ada sejak tahun 2006 atau 9 tahun lebih dulu dari Toko Desa. Pada awal pendiriannya, kolam pemandian ini sudah menerima pengunjung.

Kades Ponggok Junaedi Mulyono menjelaskan, sebelum didirikan Ponggok Ciblon, lokasi itu adalah tanah tandus. Yang mana hanya bisa ditanami kangkung dan seledri. Selain itu, juga ada sebagian yang merupakan tempat sampah.

“Itu kan merupakan tanah kas desa. Tetapi, tandus dan hanya bisa ditanami kangkung dan juga seledri saja. Kemudian kami berinisiatif untuk memanfaatkan dan menjadikan tempat wisata serta kuliner,” kata pria yang akrab disapa Junaedi ini. Soal pendapatan, jangan kaget. Setahun, Ponggo Ciblon mampu mendatangkan omzet sampai Rp 1,4 miliar. “Keuntungan bersihnya sekitar Rp 300 jutaan,” imbuhnya.

Uniknya, tak hanya mendatangkan pendapatan, Ponggok Ciblon juga menyerap belasan tenaga warga sekitar. Pihak desa memaksimalkan warga setempat untuk mengelola unit usaha tersebut. Dengan begitu, keberadaan unit usaha itu secara langsung bisa mengurangi jumlah pengangguran.

“Kalau warga di daerah kami masih membutuhkan, ya kenapa harus mengambil dari daerah lain. Lebih baik mengambil dari daerah sendiri saja untuk bekerja di unit usaha kami,” terangnya. Saat ditanya kenapa diberi nama Ponggok Ciblon, Junaedi menjawab bahwa Ciblon berarti orang mandi dengan menyeburkan diri. Simpelnya, diberilah nama Ponggok Ciblon.

Sasaran dari didirikannya Ponggok Ciblon adalah para pengunjung dari desa sebelah. Dengan harga tiket Rp 5 ribu, kolam itu selalu dipenuhi pengunjung. Terutama pada hari libur atau saat ada kunjungan dari daerah lain. Saat kunjungan, kades se-Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, para kades dibuat terpukau dengan tempat itu. Karena ada sebuah desa yang mampu membuat lokasi wisata dengan pendapatan sampai miliaran. (sid/rf)