Pengamat Pengairan Sebaung Bakal Mewakili Jatim di Tingkat Nasional

Farid Hidayat menjadi juara pengamat pengairan tingkat Jatim. Inovasi yang dibuatnya adalah menggunakan alat sensor untuk mendeteksi gangguan yang ada di pintu air.

ARIF MASHUDI, Gending

Kabupaten Probolinggo bakal mewakili Jawa Timur dalam Lomba Pengamat Pengairan tingkat Nasional. Itu, setelah Farid Hidayat keluar sebagai juara I pengamat pengairan tingkat Jatim. Ia menjadi juara setelah inovasinya berupa Alat Pengamanan Pintu Air (APPA) dianggap istimewa oleh dewan juri.

Diketahui, Farid menjabat sebagai pengamat pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Desa Sebaung, Kecamatan Gending. Saat ditemui, pria kelahiran Bondowoso, 19 Mei 1981 itu langsung memperlihatkan hasil inovasinya. Kebetulan, inovasi APPA itu sudah diterapkan di dam Banyu Biru, Desa Pajurangan, Gending.

Pintu air yang berfungsi sebagai pengatur penyaluran dan debit air, sangat dibutuhkan masyarakat, terutama para petani. Farid pun menunjukkan cara kerja inovasinya yang membawanya juara I tingkat Jatim.

Farid pun menceritakan, dirinya sebagai pengamat Pengairan Sebaung Gending, membawahi empat kecamatan. Yakni, Gending, Banyuanyar, Tegalsiwalan, dan Maron. Semua itu, berkaitan dengan pengairan, salah satunya pintu air atau dam. ”Tugasnya yang meliputi 36 desa di 4 kecamatan ini,” katanya.

Selama menjadi pengamat, dikatakan Farid, dirinya tidak jarang mendapatkan laporan dari petugas soal adanya kerusakan ataupun pintu air hilang. Kondisi itu cukup mengganggu pengairan di wilayahnya. Rupanya, kondisi itu juga terjadi hampir di semua daerah. “Saya berpikir keras bagaimana caranya menjaga pintu air,” ujarnya.

Hingga akhirnya awal tahun 2018 diakui Farid, dirinya bercerita pada tetangganya, Roy Hendarta, di Bondowoso. Hingga akhirnya, pria yang akrab disapa Farid ini disarankan untuk menggunakan alat sensor, deteksi gangguan. Dirinya pun berusaha belajar pada tetangganya alat itu dan cara kerjanya.

Hingga akhirnya, bulan April 2018, ia berhasil membuat dan mengaplikasikan di dam Banyu Biru di Desa Pajurangan Gending. “Saya pilih aplikasikan di dam Banyu Biru, Desa Pajurangan, Gending karena aliran listrik mudah,” ujarnya.

Kelebihan alat ini, diungkapkan Farid, saat ada gangguan pada pintu air, alarm di ruang penjaga berbunyi. Selain itu, APPA itu juga akan mengirim pesan singkat (SMS) pada sejumlah nomor yang telah di-setting. “Kita pilih pakai SMS, untuk efesiensi anggaran. Karena sinyal atau pesan hanya dipakai sewaktu-waktu,” terangnya.

Sejak APPA itu dipasang, diakui Farid, sempat ada kejadian sekitar pukul 12 malam, dirinya yang berada di Bondowoso menerima SMS gangguan pada pintu air. Saat diklarifikasi pada petugas dam, rupanya ada pelaku yang berusaha untuk mencuri pintu air itu. Namun, saat alarm berbunyi, pelaku itu kabur.

”Biaya untuk alat itu sampai penerapannya sekitar Rp 2,5 juta. Tapi, jika diproduksi masal akan jauh lebih hemat,” terangnya. Saat ditanya soal kendala atau kelemahan pada alat inovasinya tersebut? Bapak dua anak itu mengaku sejauh ini alat itu tidak ada kelemahannya.

Hanya saja, saat lokasi dam itu jauh dari aliran listrik, harus menggunakan solar cell. ”Harus lihat kondisi areal. Jika jauh dari aliran listrik, maka gunakan solar cell. Hanya saja biaya yang dibutuhkan solar cell lebih mahal, bisa sampai 8-10 juta,” ungkapnya.

Nantinya dikatakan Farid, pada alat itu saat dilombakan di tingkat nasional, akan ditambahi kelebihan lain. Yaitu, sensor deteksi ketinggian permukaan air. Sehingga, petugas di lapangan akan lebih mudah memantau debit airnya. ”Di Dam Banyu Biru, Desa Pajurangan, Gending aliran Sungai Kali Biru. Pertemuan tiga sungai. Dari Kali Leces, Kali Bentung Manting, dan Kali Biru sendiri,” ujarnya.

Terkait lomba di tingkat provinsi itu sendiri. Farid menjelaskan, konsep lomba itu ada dua tahapan. Pertama, peninjauan lapangan yang dilakukan pada Juli 2018 kemarin. Bobot nilai peninjauan lapangan 40 persen.

Kemudian, pada Agustus sarasehan dan pemaparan di Malang dengan bobot nilai 60 persen. “Kalau tingkat nasional nanti, terbalik. Bobot nilai 60 persen untuk peninjauan lapangan dan 40 persennya pemaparan,” terangnya. (rf)