Peringati Hari Disabilitas, Ajak ABK Berinteraksi dengan Anak Normal

PAITON – Hari Disabilitas Internasional diperingati oleh berbagai kalangan. Termasuk, Asshibyan Community. Sayap dakwah Majelis Taklim dan Sholawat Syubbanul Muslimin, Ponpes Nurul Qadim, Kalikajar, Kecamatan Paiton, ini memeriahkan Hari Disabilitas Internasional dengan menggelar Festival Olahraga Inklusif.

Rabu (12/12), festival ini digelar di Lapangan Gempa, Desa Sidodadi, Kecamatan Paiton. Ada enam jenis lomba yang dipertandingkan dengan peserta gabungan anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan anak reguler.

Para ABK itu berasal dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Raudlatul Jannah Gending; SLB Dharma Asih Kraksaan; SLB Negeri Kraksaan; dan SDLB Mambaul Ulum. Sedangkan, peserta reguler berasal dari MIN 1 Probolinggo dan SMPN 1 Paiton. Total ada 70 ABK dan 80 siswa reguler.

Mereka berbaur menjadi 6 tim untuk 6 perlombaan. Di antaranya permainan dragon ball, geng rantai, utak-atik, lingkaran persahabatan, tangga kesuksesan, dan permainan lima titik. “Melalui festival ini kami ingin menanamkan kerja sama antara anak reguler dengan ABK. Sebab, selama ini sangat jarang ABK berbaur dan bermain dengan anak reguler atau anak normal,” ujar Ketua Asshibyan Community Agus Salim.

Anis, salah satu wali murid ABK dari SDLB Mambaul Ulum mengaku sangat terharu dengan festival ini. Sebab, baru kali pertama pihaknya melihat anaknya bermain dengan anak reguler. “Saya lihat anak saya senang sekali bermain dengan anak normal. Selama ini, anak saya hanya melihat saja ketika temannya yang normal bermain bersama temannya,” ujarnya, berkaca-kaca.

Sementara itu, Pembina Asshibyan Community Gus H. Hafidzul Hakim Noer mengatakan, Asshibyan Community merupakan sayap dakwah Majelis Taklim dan Sholawat Syubbanul Muslimin. Komunitas ini bergerak dalam bidang olahraga pembangunan.

“Melalui olahraga kami ingin membentuk karakter, menanamkan akhlak, dan kedisiplinan anak-anak. Bukan hanya anak reguler, kami juga membina anak penyandang disabilitas bekerja sama dengan SLB di Kabupaten Probolinggo. Festival ini salah bentuk pengakuan dan ruang bagi mereka, bermain, dan bahagia bersama anak reguler,” ujarnya. (uno/rud)