Mr X yang Tewas Tertabrak KA di Pesisir Akhirnya Dimakamkan

MAYANGANMr X, pejalan kaki tak dikenali yang tewas tertabrak kereta api (KA) Mutiara Timur di Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, akhirnya dimakamkan Rabu (19/12). Ia dimakamkan karena tidak ada satu pun warga yang datang dan mengakuinya sebagai keluarga.

Pemakaman dilakukan oleh petugas kamar mayat (KM) RSUD dr Moh. Saleh Kota Probolinggo, Rabu (19/12) di TPU Ungup-ungup, Kelurahan/ Kecamatan Kanigaran, pukul 10.00. Dengan biaya ditanggung RSUD.

Wasis, kepala kamar mayat mengatakan, jasad korban tabrakan KA di perbatasan Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo dengan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, itu sudah sesuai prosedur. Pihaknya sudah mendapat izin dari Polsek Sumberasih, Polres Probolinggo Kota.

Apalagi jasad itu sudah 7 hari disimpan di ruang pendingin kamar mayat, sejak kecelakan pada Rabu (12/12). Mestinya, cukup 3 hari mayat tidak dikenal sudah dimakamkan.

“Prosesnya sudah kami lakukan. Kami sudah izin ke pihak kepolisian. Makanya, kami berani memakamkan korban,” tandasnya usai pemakaman.

Wasis menjelaskan, selama berada di kamar mayat, tak ada satu pun warga yang datang dan mengakui Mr X sebagai keluarga. Meski sudah dikubur, namun pihaknya tetap akan melayani jika dikemudian hari ada warga yang kehilangan keluarganya dan datang ke kamar mayat.

“Kami tetap menerima. Nanti kami sebutkan ciri-cirinya. Kalau ciri-cirinya benar, warga yang mengaku itu kami arahkan ke kantor polisi. Dibongkar atau tidak, itu kewenangan kepolisian,” terangnya.

Terpisah, Kapolsek Sumberasih Polresta AKP Wahyudi membenarkan kalau jasad pria yang dihantam KA itu sudah dikebumikan. Ia juga membenarkan bahwa RSUD telah meminta izin untuk pemakamannya.

“Sudah dapat izin dari Polresta. Alasannya, jasad sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Akhirnya polresta mengizinkan,” tandasnya.

Yang jelas, lanjut AKP Wahyudi, pihak polsek sebelumnya sudah mengumumkan dan memberitahukan melalui institusi atau jajaranya, radio, dan media sosial. Namun, hingga hari ke tujuh tak satu pun warga yang datang ke kamar mayat untuk mengakui korban sebagai keluarganya.

“Upaya kami seperti itu. Ya, mau bagaimana lagi. Akhirnya dimakamkan karena jasad sudah tidak bisa dipertahankan,” tambahnya. (rpd/hn)