Begini Rasanya Tahun Baru Bersama Suku Tengger di Bromo di Bukit Seribu Selfie

Warga Suku Tengger punya cara tersendiri untuk merayakan malam pergantian tahun. Seperti yang dilakukan warga di Desa Sariwani. Pada malam pergantian tahun Senin (31/12) lalu, mereka menggelar pesta rakyat dengan menerangi Puncak Seribu Selfie dengan cahaya obor.

MUKHAMAD ROSYIDI, Sukapura

Jarum jam pada Senin (31/12) sore baru menunjukkan pukul 18.00. Tapi, keramaian sudah terlihat di kawasan Sukapura. Beberapa pengunjung berkumpul di pelataran Bukit Seribu Selfie, spot baru di Bromo.

JADI TONTONAN: Selain dinikmati warga sekitar, acara yang digelar warga Desa Sariwani, juga menjadi tontonan pengunjung. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Baik laki-laki, perempuan, hingga anak-anak berbaur menjadi satu. Mereka tanpak akrab satu sama lain karena kebanyakan adalah warga satu desa. Sehingga, tak canggung bercengkrama. Anak-anak asyik bermain, sedangkan yang wanita menyiapkan ikan bakar.

Menjelang malam, pemuda yang lelaki tampak mulai memasang pencahayaan berupa obor di pinggiran Bukit Selfie. Setelah terpasang, satu persatu obor dinyalakan.

“Ini untuk kebersamaan. Kami membuat sebagai ungkapan syukur diberikan keselamatan dan rezeki yang cukup dan di tahun depan harapannya lebih baik lagi, ” ujar Alek, salah seorang warga yang turut serta dalam kemeriahan malam itu.

Selain dipasang, ada juga obor yang dipegang oleh warga. Sekitar puluhan obor dinyalakan. Tujuannya, sebagai penerangan. Sehingga, wilayah itu terlihat terang dengan gemerlap obor. Masyarakat melakukan itu juga untuk menarik wisatawan agar berdatangan. Apa lagi malam itu, ribuan wisatawan dari berbagai daerah memadati Bromo.

Di sisi lain, tepatnya di depan spot selfi, kaum perempuan menyiapkan ikan bakar. Ikan tersebut disiapkan untuk dinikmati bersama. “Sebagai bentuk kemakmuran dan kedamaian selama satu tahun ini. Semoga ini akan terus terjaga,” lanjut Alek.

Tidak jauh dari lokasi itu, sekitar 10 meter juga ada hiburan rakyat berupa pertunjukan kesenian Jaranan. Warga berkerumun untuk menyaksikannya. Pertunjukan itu bukan dilakukan oleh warga dewasa. Tetapi, anak-anak setempat yang masih sekolah. Mereka sengaja belajar untuk menghibur warga di malam tahun baru itu.

Anak-anak memang dilibatkan karena untuk menguatkan dan melestarikan tradisi. Sehingga, ketika generasi nantinya telah berubah dan yang anak-anak beranjak dewasa tetap membawa kesenian khas Jawa itu.

Sukaryo, kepala Desa Sariwani menjelaskan, perayaan malam pergantian tahun tidak harus dilakukan dengan cara foya-foya. Tetapi, juga dengan cara merangkul semua elemen. Tujuannya, agar tercipta persaudaraan dan kedamaian.

“Kegiatan ini baru kali ini kami lakukan. Ini hanya untuk memeriahkan malam pergantian tahun saja. Agar anak-anak tidak keluar dan ada di kampung saja. Sekalian promosi wisata ini,” katanya.

Sebenarnya, acara itu juga untuk mengajak masyarakat desa melihat sunset terakhir pada 2018. Sayangnya, pada pukul 16.00 sampai 17.40 cuaca tidak mendukung alias hujan. Sehingga, tidak ada warga yang keluar rumah saat itu.

Namun, hal itu juga tidak menyurutkan warga untuk berkegiatan. Setelah hujan reda, baru mereka semua keluar untuk merayakan malam pergantian tahun.

“Sayangnya, tadi saat sore hari sunset-nya tidak terlihat. Kalau terlihat melengkapi keindahannya,” ungkapnya.

Gemerlap obor itu sendiri dikakukan sampai malam pergantian tahun. Warga ingin menghabiskan malam terakhir di 2018 ini dengan kumpul bersama.

Sementara itu, Yulius Christian, camat Sukapura mengatakan, pihaknya mengapresiasi kegiatan tersebut. Sebab, dengan demikian sekaligus mempromosikan wisata yang ada di Kabupaten Probolinggo, khususnya di daerah Sukapura sendiri.

“Ini bisa jadi agenda tahunan. Apa lagi kan daerah Sariwani ini adalah daerah yang kategori tertinggal. Dengan adanya kegiatan semacam ini, bisa menjadikan desa semakin kreatif dan bisa meningkatkan statusnya, ” tuturnya.

Yulius -sapaan akrabnya- mengatakan, pihaknya terus mendukung pembangunan bukit itu. Sehingga, bisa lebih indah lagi. Pihaknya berharap ke depan banyak lagi wisatawan yang datang. Sehingga, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Semoga saja bisa lebih meningkatkan perekonomian masyarakat. Kami akan terus mendukung apa yang diupayakan pemerintah desa ini,” tuturnya.

Semenjak diresmikan beberapa bulan lalu, Bukit Seribu Selfie sudah dikunjungi wisatawan. Namun, pihak pemerintah desa sendiri tidak memungut retribusi. Hal itu, karena masih belum lengkap fasilitas seperti toilet, parkir, dan lain sebagainya. (fun)