Dinkes Temukan 17 ODHA Baru di Kota Pasuruan Sepanjang 2018

BUGULKIDUL – Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kota Pasuruan masih cukup tinggi. Selama tahun 2018, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan menemukan 17 orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Mayoritas ODHA ini didominasi oleh jenis kelamin laki-laki.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kota Pasuruan dr. Shierly Marlena mengatakan, temuan penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan pada 2018 meningkat. Pasalnya, sepanjang tahun 2017 lalu, Dinkes hanya menemukan delapan penderita.

Angka ini jika diakumulasikan sejak tahun 2002, Dinkes menemukan 186 penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan. Mayoritas penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan ini didominasi oleh laki-laki. Kondisi ini disebabkan faktor risiko terjangkit HIV/AIDS pada laki-laki lebih tinggi.

““Kami mulai melakukan pendataan ODHA sejak 2002. Khusus tahun ini, kami menemukan 17 ODHA baru, sehingga total ODHA di Kota Pasuruan terdapat 186 penderita,” katanya.

Shierly menerangkan, ada beberapa faktor yang memicu penyebaran HIV/AIDS di Kota Pasuruan. Di antaranya, heteroseksual, homoseksual, dan prenatal. Heteroseksual sendiri menjadi penyebab yang paling tinggi dalam penyebaran HIV/AIDS.

Pasalnya, ketika melakukan hubungan seks bersama lawan jenis, mereka tidak mengetahui jika pasangannya terjangkit HIV. Kondisi hampir serupa terjadi pada kasus homoseksual. Sementara pada prenatal biasanya tersebar akibat penularan ibu kepada anak yang dikandungnya.

“Pada kasus prenatal, maka jabang bayi dalam kandungan itu harus dilahirkan di rumah sakit. Tujuannya, untuk meminimalisasi penyebarannya menjadi lebih luas lagi,” jelas Shierly.

Ia mengaku, akan lebih baik jika penderita ODHA baru semakin cepat diketahui. Sehingga, ODHA bisa diobati dan virus HIV/AIDS tidak semakin menyebar.

Menurutnya, penyebaran HIV/AIDS dapat melalui hubungan seksual atau pemakaian jarum narkoba suntik secara bergantian.

Ia mengaku stigma pada ODHA di Kota Pasuruan masih tetap ada. Karena itu, Dinkes bersama komisi pemberantasan AIDS (KPA) di Kota Pasuruan rutin melakukan sosialisasi ke sekolah atau kelurahan dengan membentuk kader.

Sehingga, saat ditemukan ODHA, langsung dapat dilaporkan ke puskesmas terdekat. Selain itu, Dinkes terus meningkatkan pelayanan pada masyarakat dengan membentuk klinik infeksi menular seksual di delapan puskesmas dan care support therapy (CST) di RSUD dr R Soedarsono.

“Kami terus berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan di masyarakat. Termasuk, terus melakukan sosialisasi pada masyarakat agar ODHA tidak dijauhi dan segera berobat,” terang Shierly. (riz/fun)