Perkara yang Ditangani PPA Polres Probolinggo Didominasi Kasus Ini

Ini menjadi peringatan dan perhatian bagi kita semua. Supaya, tidak ada lagi anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Tilik saja penanganan dan jumlah perkara dengan korban melibatkan anak kecil yang ditangani Unit Perempuan dan Anak di Polres Probolinggo. Angkanya cukup banyak.

—————-

Bisa dibilang, kasus kekerasan seksual terhadap anak atau eksploitasi anak di Kabupaten Probolinggo masih tinggi. Bahkan, kasus setubuh anak di bawah umur, paling dominan yang ditangani unit PPA Polres Probolinggo. Betapa tidak, dalam setahun 2018, kasus yang ditangani unit PPA total berjumlah 83 kasus.

Angka itu menurun satu angka dibanding tahun sebelumnya sejumlah 84 kasus. Ironisnya, dari 83 kasus PPA tahun 2017, paling dominan adalah kasus setubuhi anak di bawah umur. Yaitu, 17 kasus.

Kapolres Probolinggo AKBP Eddwi Kurniyanto melalui Kasat Reskrim AKP Riyanto mengatakan, tiap tahun tak pernah lepas dari kasus tindak kriminal yang menimpa anak. Ironisnya lagi, angka kriminal kasus kekerasan seksual anak tergolong tinggi. Selama setahun lalu, tercatat ada 17 kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur.

”Selama setahun 2018, perkara yang ditangani PPA itu ada 83 perkara. Di antaranya paling banyak adalah kasus persetubuhan anak di bawah umur, ada 17 kasus. Tapi, Alhamdulillah, dari 17 kasus itu, sebanyak 16 kasus sudah terungkap semua,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Eks Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota itu menjelaskan, kasus pelanggaran UU Perlindungan Anak berupa kekerasan seksual, hampir semuanya dilakukan orang terdekat korban. Baik itu dari dalam keluarga ataupun teman pergaulan sehari-hari anak tersebut.

”Yang kami herankan, pelaku kekerasan seksual terhadap anak itu dari orang terdekat. Ada bapak, paman, dan tetangga yang menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur,” terangnya.

Oleh karena itu, dikatakan Kasatreskrim, ini menjadi peringatan dan perhatian bagi semua orang tua. Untuk terus mengawasi dan menjaga anak-anaknya dengan siapa bergaul dan orang dekat bagaimana? Jangan sampai ikut dalam pergaulan bebas dan menjadi korban kekerasan seksual anak.

”Anak jangan pernah lepas dari pengawasan dan kontrol orang tua. Karena sangat rawan menjadi korban kekerasan seksual,” ujarnya.

Banyak faktor diakui Kasat, yang menjadi latar belakang kasus yang menimpa di bawah umur. Mulai dari dampak salah pergaulan, ekonomi, lingkungan, pergaulan dengan anak tidak sekolah, dan faktor paling besar adalah kurangnya pengawasan orang tua.

Sampai sejauh ini, kepolisian juga masih mendampingi perkara yang masih proses maupun yang sudah diputus di meja hijau. Ini agar korbannya tak menimbulkan trauma mendalam. (mas/fun)