Pertanian Padi Desa Sumbersuko yang Tak Kenal Musim dan Punya Lahan Subur di 13 Dusun

Meski banyak terdapat industri, sektor pertanian di Desa Sumbersuko masih bertahan hingga sekarang. Dikenal juga sebagai desa lumbung padi.

RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol

Hamparan hijaunya sawah akan menyambut jika seseorang berkunjung di musim hujan seperti sekarang. Di awal musim hujan inilah biasanya petani mulai mengawali untuk menanam padi.

Lahan sawah itu juga tumbuh subur. Meskipun di Sumbersuko banyak industri baru bermunculan dan berdiri, pertanian padi di desa ini masih bertahan bahkan tumbuh subur.

Maka tak heran, jika desa ini dikenal sebagai desa lumbung pagi. Karena areal persawahannya tersebar merata di 13 dusun yang ada dengan luas mencapai sekitar 150 hektare.

“Pertanian padi menjadi sektor perekonomian utama warga desa kami, menyusul kemudian industri. Karena ada sekitar 45 persen warga bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani,” kata Kepala Desa Sumbersuko Supaat.

Umumnya, petani menanam padi. Lahan sawah juga tidak mengenal musim. Setahun bisa tiga kali tanam. Termasuk saat musim kemarau sekalipun. Ini, karena irigasi lancar.

Desa Sumbersuko juga sejuk karena berada di lereng Gunung Penanggungan. Juga pengairannya lancar, selalu terpenuhi dan setiap hari mengalir ke persawahan milik warga desa setempat. Karena itulah padi dapat tumbuh subur.

Selain itu, juga pemenuhan pupuk. Bahkan, sebagian ada yang menggunakan pupuk organik.

“Sekali panen bisa mencapai 5-6 ton untuk per hektarenya, bahkan ada yang lebih. Mayoritas dijual ke tengkulak, sisanya dikonsumsi sendiri,” tukasnya.

Karena pertanian menjadi sektor perekonomian penting, di lapangan tetap mendapat atensi dari pemdes setempat. Di antaranya mendukung kegiatan kelompok tani dan gapoktan. Juga koordinasi intensif dengan mantri pertanian.

“Di luar itu, juga ada pembinaan yang difasilitasi pemdes bekerja sama dengan instansi terkait di Pemkab Pasuruan. Ini menjadi tugas kami di pemdes,” imbuhnya. (fun)