Sekuriti di Purwosari Gelapkan 25 Ton Tembakau yang Nilainya Capai Rp 600 Juta

TAK AMANAH: Tersangka Sugeng (kanan) saat rekonstruksi Rabu (2/01) di gudang milik PR Putra Pahala di Dusun Kemirahan, Desa Tejowangi, Kecamatan Purwosari. (Polsek Purwosari for Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PURWOSARI – Amanah yang diberikan terhadap Sugeng Hadi Purnomo, 45, justru mengantarkannya ke balik jeruji tahanan. Sekuriti asal Dusun Kemirahan, Desa Tejowangi, Kecamatan Purwosari, ini diduga menggelapkan 25 ton tembakau jenis papi yang nilainya Rp 600 juta lebih.

Pelaku akhirnya ditahan polisi sekitar tiga hari lalu. Dan, Rabu pagi (2/1), kasus ini direkonstruksi Polsek Purwosari di gudang milik PR Putra Pahala, yang ada di Desa Tejowangi. Dalam rekonstruksi itu, polisi mereka ulang adegan saat Sugeng mengeluarkan tembakau dari gudang.

Kasus ini sendiri sejatinya sudah dilaporkan sejak September 2017. Namun, polisi perlu mendalami, bagaimana peran Sugeng.

“Akhirnya setelah cukup bukti, kami menetapkan dia (Sugeng) sebagai tersangka,” terang Kapolsek Purwosari AKP I Made Suardana.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, kasus pencurian itu berawal saat pemilik PT Putra Pahala, merasa ada tembakau di gudang miliknya yang hilang. “Sebelumnya saya sakit lama dan hampir setahun tidak mengurus gudang. Begitu saya sehat, langsung saya kontrol,” beber Sukri, pemilik PT Putra Pahala kepada wartawan.

Sukri pun mendatangi lokasi gudang di Dusun Kemirahan, Desa Tejowangi. Saat itu dia terkejut karena Sugeng menyerahkan kunci gudang.

“Awalnya saya tak curiga. Cuma kaget saja lantaran Sugeng ini sudah bekerja ke saya belasan tahun. Tapi, tiba-tiba ngomong mau berhenti. Padahal, selama saya sakit, gaji tetap saya berikan,” terang Sukri.

Singkatnya, Sukri curiga dan mulai mengecek kondisi gudang. Dia menghitung total tembakau yang disimpan di gudang yang cukup luas tersebut. Hingga kemudian, dia menemukan sekitar 25 ton tembakau jenis papi hilang.

“Satu kilogram tembakau ini harganya Rp 25 ribu. Kalau dihitung nilainya mencapai Rp 617 juta,” beber Sukri.

Alhasil, Sukri melaporkan kasus hilangnya 25 ton tembakau itu ke Polsek Purwosari. Polisi langsung melakukan penyelidikan. Namun, saat itu tidak bisa langsung dipastikan bahwa pelaku penggelapan tembakau adalah Sugeng.

Sugeng memang seorang diri berjaga di gudang. Dan, dia satu-satunya orang yang dipercaya memegang kunci gudang. Namun, polisi tetap perlu bukti bahwa ada tembakau yang dibawa Sugeng.

Hingga kemudian polisi menemukan barang bukti berupa kain pembungkus tembakau ukuran kiloan yang dibawa Sugeng. Setelah itulah Sugeng akhirnya dijadikan tersangka dan dikenai pasal 362 tentang Pencurian. Dia pun ditahan.

Nah, untuk pembuktikan lebih kuat, polisi menggelar rekonstruksi di gudang PT Putra Pahala. Selain Sugeng, ada dua saksi yang dihadirkan. Yaitu, Adi Mulyanto dan Arisandi. Keduanya adalah sopir truk yang pernah mengangkut tembakau dari gudang.

Selama proses rekonstruksi, Sugeng berkali-kali menyangkal bahwa dia membawa keluar tembakau dari gudang. Namun saat ditanya, siapa yang mengangkut tembakau, jawabannya tidak jelas.

Aku gak wero, Pak. Gak wero opo-opo. (Saya tidak tahu. Tidak tahu apa-apa). Saya ini cuma disuruh membuka kunci gerbang, lalu mengawasi keluar masuknya tembakau. Yang tahu itu ya Haji Sukri (pemilik gudang Putra Pahala),” kata Sugeng.

Di sisi lain, Sukri masih tidak percaya dengan ucapan Sugeng. Sebab, dia memiliki pembukuan yang mencatat keluar-masuk tembakau dari gudang. Dia pun curiga, tembakau tersebut dijual oleh pelaku.

“Yang jelas, tembakau saya ini kualitasnya bagus. Harganya mahal dan hanya perusahaan tertentu saja yang mau memakai tembakau ini,” kata Sukri. (fun/hn)