Sidang Kades Sumberdawesari Diwarnai Aksi Demo Dua Kubu

TERBELAH: Massa pro dan kontra Kades Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Budiono Subari, mendatangi PN Bangil. Mereka hendak mengikuti sidang terdakwa dengan agenda pembacaan tuntutan JPU. (Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

BANGIL – Persidangan kasus perbuatan tidak menyenangkan dengan terdakwa Kepala Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Budiono Subari, menarik perhatian warga. Rabu (9/1), ada dua kubu warga yang sama-sama datang ke Pengadilan Negeri (PN) Bangil. Yakni kubu terdakwa dan kubu korban.

Meski beda kubu, puluhan massa yang beraksi di depan PN itu sama-sama mendukung penegakan hukum. Mereka juga meminta terdakwa kades Sumberdawesari dihukum sesuai perbuatannya.

Massa mulai datang ke PN Bangil sejak pukul 10.00. Sekitar pukul 11.00, terjadi aksi saling membentangkan spanduk. Dari dua kubu yang pro dan kontra terhadap terdakwa, Budiono Subari.

Aksi ini sempat membuat ramai PN Bangil karena massa juga sempat saling mengolok-olok. Massa yang pro meminta terdakwa segera dibebaskan.

Alasannya, meski baru menjabat 8 bulan sebagai kepala desa, warga menilai terdakwa merupakan kepala desa yang bisa membangun desanya.

“Orangnya baik. Selama memimpin saya lihat desa semakin maju,” ujar warga Desa Sumberdawesari yang pro terdakwa, Nia Rahmawati, 31.

Pernyataan Nia diamini warga lainnya, Muhammad, 40. Menurutnya, sebenarnya terdakwa dizalimi. Sebab, sebelumnya terdakwa sudah meminta maaf kepada korban dan bersedia berdamai. Namun, akhirnya masih dipolisikan.

Sedangkan massa yang kontra terhadap terdakwa mengaku tidak takut meski ada massa tandingan. Alasannya, mereka membela kebenaran.

“Biar hukum yang berbicara. Keluarga kami yang ditodong senjata, jadi kalau hukum dipermainkan lihat saja nanti,” ujar pendukung korban Anto, Siti Mutmainah, 36.

Suhul, 67, warga lainnya mengaku tidak takut karena jelas membela yang benar. Sebab, terdakwa telah mengancam warganya menggunakan senjata api. “Kalau massa kami murni dari masyarakat sendiri karena tidak suka dengan kesewenang-wenangan kades,” ujarnya.

Aksi ini sempat reda sekitar pukul 12.00. Massa yang berjumlah sekitar 60 orang ini menunggu persidang beragenda tuntutan yang seminggu sebelumnya sempat ditunda. Saat itu, sidang ditunda karena jaksa penuntut umum belum siap membacakan tuntutannya. (eka/rud)