Berdarah-darah, Begini Upaya Perlawanan Korban Perampokan di Jrebeng

WONOASIH– Tak hanya kehilangan sejumlah hartanya. Suwarno, 65 juragan properti asal Jl. KH Z. Muttaqin RT 1/RW 1, Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo yang dirampok Jumat pagi (18/1) juga mengalami sejumlah luka bacokan.

Suwarno yang ditemui di rumahnya memperkirakan, pelaku berjumlah 6 orang. Mereka mengendarai 3 motor. Empat di antaranya masuk ke dalam rumah. Sementara dua pelaku lainnya berjaga di luar rumah. Satu pelaku menjaga motor, lainnya mengamati situasi.

“Yang masuk rumah ada empat orang. Informasi dari tetangga, ada satu orang yang berjaga di sepeda motornya. Satu lagi berjaga di depan rumah. Jadi, totalnya sekitar 6 orang,” terang Suwarno sambil meringis kesakitan. Maklum, ia menderita luka bacokan di tangan kanan dan kiri akibat sabetan celurit pelaku.

Setelah berhasil masuk, pelaku langsung menelusuri sejumlah ruangan. Kamar Suwarno yang paling dekat dengan jendela, menjadi sasaran pelaku.

Kebetulan, kamar tersebut dalam kondisi terbuka. Empat pelaku itu langsung menindih Suwarno. Korban yang sudah tua itu tak mampu berontak. Terlebih, pelaku mengancam dengan celurit.

“Ada sekitar tiga orang yang tiba-tiba masuk kamar saya. Saya langsung diinjak bagian kepala dan ditindih, sambil menutup mulut saya dengan lakban. Sementara satu lainnya mengikat tangan saya,” terangnya. Korban juga mengaku jika wajahnya dipukuli pelaku.

Pukulan itu membuat Suwarno meringis kesakitan. Suara berisik di kamar Suwarno, didengar Sayuni. Sang istri langsung keluar kamar. Mulanya, Sayuni menduga jika Suwarno meringis kesakitan akibat penyakit stroke yang memang lama diidap suaminya. Namun, begitu keluar kamar, ia langsung berhadapan dengan pelaku.

“Ada suara seperti teriakan di kamar Bapak (suaminya, Red). Saya kira strokenya kambuh. Soalnya pernah kena stroke. Akhirnya, saya bangun dan melihatnya,” terang Sayuni.

Sayuni kaget bukan kepalang. Seluruh pelaku yang memakai penutup wajah dan menenteng celurit, membuatnya gemetar. Pelaku lantas menyeret Sayuni, begitu pula Hadi dan Sri Wahyuni ke kamar Suwarno. Namun, Sayuni tidak diikat. Oleh pelaku, Sayuni diminta menunjukkan lokasi penyimpanan barang berharga.

Kepada pelaku, Sayuni mengaku tidak punya uang. Penyangkalan itu membuat pelaku kalap. Mereka memukuli Suwarno. Pelaku juga mengancam akan membunuh korban jika tak segera menyerahkan hartanya. Tak tega melihat suaminya dianiaya, Sayuni pun mengakui jika ia menyimpan perhiasan.

Pelaku lantas menyuruh Sayuni menunjukkan lokasi penyimpanan hartanya. Dua pelaku kemudian membuntuti Sayuni ke kamar tempat dia tidur.

Kemudian, lantaran kedua pelaku yang membuntuti Sayuni tidak kunjung kembali, satu dari dua pelaku yang berada di dalam kamar Suwarno, menyusul kedua temannya.

Saat itulah, terbersit niat Suwarno dan kedua anaknya untuk mengeroyok pelaku. Suwarno dan Hadi, kemudian berusaha merebut senjata pelaku. Lantaran terdesak, pelaku berteriak. Teriakan itu mengundang tiga pelaku lain. Pelaku kembali menganiaya Suwarno hingga tak berdaya.

Bahkan, tangan dan punggung Suwarno terkena celurit. Setelah menganiaya Suwarno, dua pelaku kembali ke kamar Sayuni. Sayuni kemudian menunjukan kotak perhiasan.

Pelaku kemudian mengambil tas laptop milik Hadi untuk tempat perhiasan tersebut. Perhiasan tersebut di antaranya 20 cincin, 8 gelang, dan 3 kalung.

Setelah menggasak harta korban, keempat pelaku langsung melarikan diri melalui pintu samping rumah yang baru dibangun. Kebetulan rumah lama dan rumah baru yang belum ditinggali itu, terdapat pintu penghubung.

Setelah pelaku kabur, Suwarno masih berusaha mengejar pelaku. Padahal, saat itu ia terluka. Suwarno menyebut, darahnya berceceran di lantai saat ia berusaha mengejar pelaku.

Namun, upaya pengejaran itu gagal. Setelah itu, korban kemudian dilarikan ke IGD RSUD dr. Mohamad Saleh. “Ayah dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 03.30,” terang Hadi Suwarno. Sekitar pukul 10.30, Suwarno sudah diperbolehkan pulang. (rpd/mie)