Inilah Beras Analog Buatan Siswi SMA Unggulan Haf-Sa yang Sukses Menang di Kejuaraan Internasional

Tiga orang siswi SMA Unggulan Haf-Sa, Pondok Pesantren (PP) Zainul Hasan Genggong menorehkan prestasi membanggakan dalam kejuaraan The Second Phatthalung International Science Fair 2019 and PCCST Internasional Science Fair. Mereka memenangi dua trofi sekaligus dalam kejuaraan yang digelar di Thailand itu.

MUKHAMAD ROSYIDI, Pajarakan

Aura kemenangan masih terlihat dari wajah Khomsiah Naili, 17; Nanik Nor Laila, 16; dan Cahyaning Fitri Aisyah, 15. Ketiganya tidak menyangka, beras analog yang menjadi andalan dalam kejuaraan itu, berhasil menyabet predikat juara.

BANGGA: Beras analog ini diikutkan kejuaraan The Second Phatthalung International Science Fair 2019 and PCCST Internasional Science Fair di Thailand. (Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Meski baru saja mendarat di tanah air Senin (21/1), namun tak terpancar wajah lelah dari ketiganya. Bahkan, mereka langsung kembali ke pondok pesantren tempat menimba ilmu. Kepulangan tiga siswa itu, disambut haru KH Muhammad Hasan Mutawakkil Alallah, putrinya, dan juga guru SMA Unggulan Haf-Sa.

Setibanya di pondok, ketiganya langsung diarahkan ke Masjid Haf-Sa yang berada di sebelah utara SMAU. Mereka diberi tempat di depan, berkumpul bersama dengan pengasuh pondok dan juga para gurunya. Hal itu, guna untuk pemaparan dan sebagai motivasi santriwan dan santriwati agar mengikuti jejak ketiganya.

Cahyaning Fitri Aisyah, yang mewakili kedua rekannya, didapuk memberikan sambutan. Menurutnya, sukses menyabet prestasi di Thailand merupakan buah kerja sama banyak pihak. Selain dorongan dari seluruh elemen yang ada di SMAU.

“Terima kasih atas kesempatan ini. Apa yang kami hasilkan ini bukan untuk kami pribadi. Tetapi, untuk semuanya. Ini adalah kemenangan seluruh teman-teman, terutama guru-guru yang ada di sini (PP Zainul Hasan Genggong, Red),” katanya polos.

Setelah acara selesai, Jawa Pos Radar Bromo berkesempatan berbincang dengan ketiga siswi tersebut. Dari hasil perbincangan itu, mereka berhasil menyabet prestasi Juara 1 di ajang kejuaraan The Second Phatthalung International Science Fair 2019 di Phatthalung dan juara 2 di PCCST Internasional Science Fair yang digelar di Satun.

Kedua lomba itu digelar di negeri gajah putih. Dua kejuaraan itu dilakukan dalam waktu berdekatan. Untuk Phatthalung digelar pada Selasa (15/1) lalu. Sedangkan di Salun, digelar Kamis (17/1).

Fitri sapaan akrab Cahyaning Fitri Aisyah menjelaskan, awal mula ide munculnya beras analog yang digunakan dalam lomba itu datang begitu saja. Yaitu, setelah sekolah membentuk tim untuk mengikuti kejuaraan yang digelar di empat negara. Mulai Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

“Setelah melakukan analisis, kami menemukan buah Suwek (semacam umbi umbian, Red) yang banyak sekali di Probolinggo. Buah itu banyak khasiatnya. Tetapi, itu tidak dimanfaatkan oleh mayoritas masyarakat. Dari itulah kemudian muncul ide untuk memanfaatkan buah tersebut,” ujar santriwati yang masih duduk di kelas 1 SMA itu.

Sambil memamerkan beras analog buatannya, Fitri juga menceritakan kenapa beras yang dipilih. Menurutnya, beras dipilih karena banyaknya isu impor beras dari luar negeri. Baik Fitri maupun Khomsiah dan Nanik menyepakati ide tersebut dan memikirkan alternatifnya.

“Itu saja idenya. Tetapi, kami juga sekalian mencampurnya untuk kesehatan, pencegahan kanker serta diabetes. Yakni, mencampurkannya dengan daun kelor. Baru kemudian diproses sampai menjadi beras,” katanya.

Persiapan untuk mengikuti lomba biologi bertaraf internasional itu, tentunya tidak singkat. Persiapan ketiganya membutuhkan waktu enam bulan lamanya. Itu, guna menyiapakan materi apa yang akan dibawa bersaing dengan siswa dari luar negeri.

“Untuk persiapannya cukup matang. Sebab, kami telah melakukan persiapan sejak 6 bulan lalu. Mulai mencari produk apa yang akan kami bawa, proposalnya, dan juga persiapan yang lain. Jadi sudah benar-benar matang,” timpal Nanik.

Dalam pelaksanaan lomba pun, mereka mengaku tidak banyak masalah yang dihadapi. Menurut perempuan yang duduk di kelas 12 SMA itu, kesulitan yang ada hanya dari segi bahasa. Sebab, dalam menerangkan propsal kepada assessor atau penguji di Thailand, dilakukan dengan menggunakan Bahasa Inggris.

“Inggrisnya itu bahasa Biologi. Jadi, agak kebingungan. Kalau Inggris percakapan, kami sudah bisa. Sebab, di sekolah memang dipelajari,” tuturnya. Hal senada juga disampaikan oleh Khomsiah. Menurutnya, dalam waktu presentasi sudah ada bagiannya masing-masing. Yaitu, mulai dari abstrak, latar belakang, metode, teori, hingga teknis. Sehingga tidak begitu memusingkan.

Ada hal menarik selama mereka berada di Thailand. Mereka tak hanya bingung soal bahasa, tapi juga arah kiblat. “Kalau mau salat itu bingung menentukan arah kiblatnya. Tetapi, setalah itu nanya dan diberikan pengarahan, jadi tahu dan bisa menjalankan ibadah dengan baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong KH. Muhammad Hasan Mutawakkil Alallah mengapresiasi prestasi yang diraih oleh anak didiknya itu. Menurutnya, prestasi tersebut sebagai hadiah ulang tahun pesantren ke 180. “Ini merupakan hadiah dari santriwati di ulang tahun pondok. Sangat membanggakan bagi pondok dan juga bangsa Indonesia,” tuturnya.

Menurut Kiai Mutawakkil, prestasi itu juga sebagai motivasi kepada santriwan dan santriwati lainnya. Sehingga mereka juga terpacu untuk menjadi juara di kejuaraan lain. Baik level nasional maupun internasional. Prestasi itu juga membuktikan, bahwa santri juga mampu berperan bagi bangsa. (fun)