Kasus Perceraian di PA Bangil Dalam Setahun Mencatat 2.064 Perkara

BANGIL – Perkara perceraian yang ditangani Pengadilan Agama (PA) Bangil, masih cukup tinggi. Meski tahun kemarin lebih sedikit banding pada 2017. Dari 2.064 perkara pada 2018, ada 1.457 istri yang minta cerai.

Sampai akhir 2018, jumlah pengajuan cerai yang ditangani PA Bangil mencapai 2.064 perkara. Dari jumlah itu, gugat cerai atau pengajuan cerai yang diajukan pihak istri mendominasi mencapai 70 persen. Dari jumlah total pengajuan yang masuk, turun tipis dibandingkan 2017.

Panitera Muda Hukum PA Bangil Zulfiatu Hifdzillah mengatakan, sudah menjadi tren setiap tahun jumlah pengajuan cerai didominasi gugatan istri kepada suami. Banyak faktor yang melatarbelakangi, namun biasanya karena menganggap suami tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan istri, seperti dari segi ekonomi.

Masalah ekonomi menjadi alasan tertinggi dalam pengajuan cerai. Terutama, karena suami tidak bisa memberikan nafkah atau pemberian uang sesuai kemauan istri. “Ekonomi masih menjadi faktor utama atau paling tinggi dalam alasan pengajuan cerai. Dan, yang sering mengajukan faktor ekonomi ini dari pihak perempuan,” ujar Zulfiatu.

Faktor kedua alasan pengajuan cerai lantaran sudah tidak ada lagi keharmonisan. Termasuk, berbagai alasan dari faktor kecanggihan teknologi, seperti adanya media sosial membuat adanya pihak ketiga juga didominasi lantaran faktor teknologi.

Zulfiatu mengatakan, bahwa data yang tercatat di PA Bangil, sepanjang 2018 jumlah perkara yang ditangani mencapai 2.064 kasus. Dari jumlah itu, 1.457 merupakan gugatan cerai dan 607 cerai talak. Dari jumlah itu, 70 persen perceraian diajukan pihak perempuan.

Mendapati banyaknya kasus itu, menurut Zulfiatu, pihaknya terus berupaya agar kasus perceraian bisa ditekan. Salah satunya dengan melakukan mediasi terlebih dahulu agar pasangan yang hedak bercerai bisa rujuk. “Biasanya dinasihati dulu oleh hakim sebelum sidang. Jika sama-sama menghadiri sidang, maka berusaha didamaikan,” ujarnya.

Terkait naik turunnya jumlah pengajuan cerai, menurut Zulfiatu, tidak bisa diprediksi. Sebab, itu tergantung kondisi masyarakat. Termasuk, kondisi internal dalam rumah tangga yang membuat pengajuan cerai terjadi di PA Bangil. (eka/fun)