Waduh, Sudah 545 Warga Kab Probolinggo Meninggal Akibat HIV/AIDS Sepanjang 2000-2018

Sejak tahun 2000 hingga 2018, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo mencapai 1.804. Dari jumlah tersebut sekitar 545 penderita meninggal dunia. Dinas Kesehtan setempat berupaya melakukan berbagai upaya, agar persebaran penyakit ini tak semakin banyak.

———–

Berdasarkan data yang didapatkan Jawa Pos Radar Bromo, HIV-AIDS di Kabupaten Probolinggo mulai terdeteksi sejak tahun 2000. Pada tahun tersebut penderita hanya ada 1 orang pengidap. Semenjak itu, dinas semakin masif untuk melakukan deteksi masyarakat yang mengidap.

Lima tahun kemudian, warga yang terindikasi postif HIV/AIDS menjadi 20 orang dan yang meninggal sekitar 7 penderita. Jumlah tersebut terus meningkat. Pada 2010 jumlah penderita menjadi 144 penderita. Dan jumlah yang meninggalpun kian meningkat menjadi 83 orang. Tidak hanya itu, seiring berkembangnya manusia jumlah peningkatan pun semakin banyak.

Lima tahun setelah itu yakni 2015 jumlah penderita sebanyak 1.089. Begitupun yang meninggal dari 83 menjadi 320 orang. Sampai pada 2018 jumlahnya tambah banyak. Pada tahun 2018 lalu, jumlahnya menjadi sekitar 1.804. Dan yang meninggal menjadi 545 orang.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menyebutkan, setiap tahun pihaknya selalu melakukan pendataan dan juga berusaha untuk menemukan penderita baru. Sebab, semakin banyak yang terdeteksi maka semakin baik dan penyebaran juga bisa dikendalikan.

“Jumlahnya setiap tahun memang semakin banyak. Tetapi itu bukan hal yang negatif. Semakin banyak yang ditemukan maka semakin baik. Sebab, dengan begitu penularannya bisa dikendalikan,” katanya.

Perempuan yang akrab disapa Dewi ini menuturkan, jika penderita penemuan penderita baru semakin banyak, semakin mudah untuk dikontrol. Sebab, dengan semakin banyak penderita yang ditangani dan diberikan obat diharapkan akan mampu mengendalikan virus yang ada di dalam tubuh si penderita.

“Obat itu untuk mengendalikan virus yang ada ditubuhnya. Sehingga tidak bisa semakin menggerogoti tubuh si penderita. Dengan demikian juga si penderita ini akan hidup layaknya orang sehat. Harapannya, virus itu tidak menyebar di orang-orang terdekatnya,” katanya.

Mengenai jumlah penderita yang meninggal, menurutnya hal itu karena beberapa faktor. Antara lain, karena penderita tersebut mandek mengkonsumsi obat. Sehingga, kemudian mengakibatkan virus yang menggerogotinya semakin agresif dan sampai membunuh penderita itu.

“Faktornya banyak. Ada yang karena telat minum obat dan ada yang sudah memang parah. Sehingga, tidak bisa dikendalikan dengan obat dan penderita tersebut meninggal,” terangnya.

Jika ada penderita yang berhenti mengkonsumsi obat, pihaknya tentu tidak tinggal diam. Malahan, pihak dinas melalui puskesmas melakukan kunjungan ke rumah penderita. Hal itu, bertujuan agar penderita HIV tersebut bisa kembali mengkonsumsi obat sehingga bisa masih bisa bertahan hidup lebih lama.

“Kami langsung jemput bola jika ada yang demikian. Tetapi perlu diingat, obat itu tidak bisa membunuh virus. Hanya bisa mengendalikan. Tetapi, jika penderita mengkonsumsi obat maka hidup layaknya seperti orang biasa,” jelasnya. (sid/fun)