Meski Gelombang Bisa Mencapai 6 Meter, Masih Ada Nelayan yang Tetap Melaut

PANGGUNGREJO – Cuaca buruk yang terjadi di wilayah Pasuruan, rupanya tidak menghalangi sebagian nelayan di Kota Pasuruan untuk melaut. Mereka tetap melaut meski ada imbauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mewaspadai ombak tinggi.

Salah seorang nelayan asal Kota Pasuruan, Mansyur mengatakan, sejumlah nelayan tetap melaut, tapi hanya sampai tepian. Sebab, ombak di tengah laut cukup tinggi dan membahayakan. “Kalau kami tidak melaut, keluarga kami mau dikasih makan apa. Selama ini cuma di tepian saja. Otomatis dapat ikan kecil, seperti ikan asin. Namun, harga jualnya masih lumayan. Sekilo (satu kilogram) bisa Rp 9.000,” ujarnya.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pasuruan Ihsan Khoiri menjelaskan, jumlah nelayan di Kota Pasuruan mencapai 1.400 orang. Ia membenarkan, jika masih ada nelayan yang tetap melaut meski cuaca buruk. Namun, biasanya mereka nelayan dengan kapal sedang dan besar.

Menurutnya, nelayan biasanya melaut dengan melihat kondisi cuaca. Jika angin tidak terlalu kencang dan ombak masih cukup bersahabat, nelayan dipastikan akan melaut. Namun, hanya sebatas di tepian. “Kalau nelayan kapal kecil tidak melaut. Mereka biasanya memilih pekerjaan lain untuk sementara, seperti menjadi tukang ojek dan becak. Kalau nelayan kapal sedang dan besar tetap melaut. Cuma mereka tidak berani sampai ke tengah,” ujar Ihsan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan Yanuar Afriansyah mengaku, pihaknya tetap mengimbau nelayan memperhatikan cuaca saat melaut. Sebab, berdasarkan prakiraan BMKG, cuaca buruk disertai angin kencang akan terjadi sampai Maret 2019.

“Potensi gelombang tinggi dengan perkiraan 4,0 meter sampai 6,0 meter. Karena itu, kami tetap meminta berhati-hati terhadap dampak yang ditimbulkan dari curah hujan tinggi dan angin kencang. Utamanya di akhir Januari ini,” ujarnya. (riz/fun)