Camat Sumberasih: Sutiha Tak Dapat Ganti Rugi Karena Ibunya yang Dapat Uang

SUMBERASIH – Aksi Sutiha Sutiha, Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo yang memagar tanah di areal rest area tol Paspro mendapat tanggapan dari pihak kecamatan. Camat Sumberasih Ugas Irwanto menjelaskan, Sutiha tidak mendapat bagian dari ganti rugi tanah neneknya adalah wajar. Sebab, uang dari jalan tol itu diterima ibunya.

“Jadi, uangnya diterima ahli warisnya yakni ibunya Sutiha. Kecuali, ibunya meninggal, baru uang itu diberikan ke Sutiha,” tandasnya.

Menurut Ugas, tanah yang dipermasalahkan Sutiha tersebut ahli warisnya lima orang, termasuk ibunya Sutiha. Dengan demikian, Sutiha bukan ahli waris dari tanah tersebut. Ugas mengaku tidak tahu, apakah Sutiha diberi uang atau tidak oleh ibunya.

“Sutiha itu bukan ahli warisnya. Karena tanah itu milik neneknya. Yang ahli warisnya itu ibunya Sutiha. Sehingga, uangnya diberikan pada ahli warisnya (ibunya). Kecuali ibunya meninggal. Perkara sama ibunya dikasih atau tidak, itu bukan urusan saya. Itu urusan internal keluarga,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Ugas mengatakah, sudah mencabut pagar yang ditanam Sutiha. Hal itu dilakukan setelah dirinya mengumpulkan Sutiha dan suaminya serta keluarganya. Pihaknya juga telah menghubungi pengacara Sutiha dan menjelaskan masalahnya.

“Sudah selesai. Ya kami bongkar disaksikan polsek. Ini kan tidak ada hubungannya dengan jalan tol. Ini persoalan keluarga Sutiha,” bebernya.

Terpisah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada proyek tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) Agus Minarno mengatakan, urusan pembebasan lahan sudah selesai. Termasuk lahan yang dipersoalkan Sutiha yang dipakai rest area. Bahkan, Sutiha sudah menandatangani surat pelepasan hak. “Sudah kami bayar semuanya,” kata Agus seraya menunjukkan tanda bukti pembayaran, berikut fotonya.

Dengan demikian, jika sewaktu-waktu ada hal yang mengganggu jalannya proses pembangunan rest area, maka sepenuhnya akan diserahkan pada pihak yang berwajib. “Kalau tetap ngotot, biar hukum saja yang berbicara. Bisa jadi malah kena pidana,” pungkasnya. (rpd/hn/fun)