ODHA di Kota Pasuruan Didominasi Laki-Laki, Sepanjang 2018 Ada 24 Kasus

BUGULKIDUL – Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan selama dua tahun terakhir menurun. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) tetap meminta warga waspada. Salah satunya dengan melakukan deteksi dini terhadap risiko penularan HIV/AIDS.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Pasuruan Shierly Marlena mengatakan, temuan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Pasuruan tahun kemarin menurun. Hanya ada 24 kasus. Sedangkan, pada 2017 Dinkes menemukan 33 kasus. Sejauh ini ODHA di Kota Pasuruan didominasi laki-laki. Sebab, risiko terjangkit HIV/AIDS pada laki-laki lebih tinggi.

Menurur Shierly, penyebaran HIV/AIDS disebabkan beberapa faktor. Di antaranya, heteroseksual, homoseksual, dan prenatal. Heteroseksual menjadi penyebab tertinggi penyebaran HIV/AIDS. Karena ketika melakukan hubungan seks bersama lawan jenis, mereka tidak mengetahui jika pasangannya terjangkit HIV.

Hal serupa juga kerap terjadi pada kasus homoseksual. Sedangkan, penyebaran virus pada kasus prenatal dikarenakan penularan ibu kepada anak yang dikandungnya. Karenanya, diperlukan deteksi dini terhadap setiap ibu hamil yang akan melahirkan.

Deteksi dini itu semakin baik jika dilakukan secepatnya. Sehingga, penanganan medis juga dapat dilakukan agar sebaran virus tak semakin parah. “Penanganan deteksi dini bisa dilakukan di puskesmas atau rumah sakit. Agar mendapatkan PDP (perawatan dukungan dan pengobatan),” ujar Shierly.

Pihaknya berharap adanya kesadaran masyarakat untuk mengikuti program deteksi dini. Di sisi lain pihaknya juga terus berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan di masyarakat. Termasuk, terus melakukan sosialisasi pada masyarakat agar ODHA tidak dijauhi dan segera berobat. “Setelah deteksi dini, penderita akan ditangani secara rutin dan gratis. Setidaknya imunitas mereka bisa tetap terkontrol,” ujarnya. (tom/rud/fun)