DBD di Kab Probolinggo Naik Lipat Empat, 1 Warga Klaseman Meninggal

KRAKSAAN–Warga Kabupaten Probolinggo harus mewaspadai Demam Berdarah di musim penghujan seperti saat ini. Sebab, hingga Kamis (31/1), tercatat ada 88 kasus DBD yang sudah tercatat Dinas Kesehatan.

Angka ini naik lipat empat jika dibandingkan dengan Januari 2018. Tahun lalu, tercatat hanya ada sekitar 20 kasus saja. Bahkan, tahun ini satu penderita asal Desa Klaseman, Kecamatan Gending, meninggal dunia.

Dewi Vironica, kasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo membenarkan kenaikan signifikan kasus DBD di Kabupaten Probolinggo.

“Mereka ada yang dirawat di RSUD Waluyo Jati, Tongas, Wonolangan, dan RSUD dr Mohamad Saleh,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo.

Terkait penderita yang meninggal dunia, saat itu korban sudah menjalani perawatan di rumah sakit selama 3-4 hari. Namun, karena trombositnya terus turun, akhirnya meninggal dunia. “Korban sempat dirawat di ruang ICU, sebelum akhirnya meninggal dunia,” ujarnya.

Dewi menjelaskan, puluhan kasus yang terjadi bulan ini, paling banyak diderita warga asal Kecamatan Maron. Ada sekitar 12 penderita. Kemudian, dari segi usia, tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. “Termasuk penderita yang meninggal usianya sekitar 30 tahun,” terangnya.

Ia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaannya. Mengingat, musim hujan akan berlangsung lebih lama. Faktor penyebab kasus DBD bisa karena lingkungan dan cuaca.

Oleh karena itu, sesuai instruksi Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari, masyarakat harus terlibat dalam program pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Penanggulangan kasus DBD paling efektif dengan menggerakkan masyarakat untuk PSN. Karena akan membunuh jentik-jentik nyamuk, bukan mengandalkan fogging,” terangnya.

Dewi menjelaskan, pelaksanaan fogging ini tidak bisa membunuh nyamuk sampai jentik-jentiknya. Namun, selama bulan ini sesuai permintaan dari masyarakat, pihaknya sudah melakukan fogging sebanyak 15 kali. ”Fogging itu dilakukan hampir merata di sejumlah kecamatan, sesuai permintaan dari masyarakat,” terangnya.

Daeng Mahardika, koordinator Hukum dan Pelayanan Publik RSUD Tongas mengaku, bulan Januari tahun ini tercatat ada 16 pasien DBD. Kalau dibanding tahun lalu, jauh meningkat.

Sebab, selama bulan Januari tahun 2018, hanya ada 3 kasus DBD. ”Sampai hari ini (Kamis), pasien penderita demam berdarah tetap 16 pasien, tidak ada tambahan,” ujarnya. (mas/mie)