Pabrik Pengelolaan Tambang di Asembakor-Kraksaa Disegel Polda Jatim

BERMASALAH: Suasana di depan pabrik PT Bahtera Kurnia Abadi di Desa Asembakor, Kraksaan, siang kemarin. Pabrik pengelolaan batu itu disegel Polda Jatim lantaran keterkaitan soal perizinan. (Foto: M Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KRAKSAAN – Sebuah pabrik pengelolaan tambang di Desa Asembakor, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, disegel. Penyegelan itu dilakukan Polda Jatim beberapa waktu lalu. Langkah penyegalan itu dilakukan lantaran pabrik diduga belum melengkapi izin.

Pabrik tersebut berupa penggilingan batu. Informasinya, pabrik itu bernama PT Bahtera Kurnia Abadi. Hingga Kamis (31/1) tidak aktifitas di lokasi pabrik yang berada di utara Jalan pantura tersebut. Pintu gerbang masuk pubrik ditutup. Sedangkan di dalamnya tidak ada aktifitas orang bekerja. Suasana pabrik saat Jawa Pos Radar Bromo ke lokasi layaknya perusahaan yang sedang meliburkan karyawannya.

Adanya penyegalan pabrik itu dibenarkan Wadirreskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara Syarifuddin. Menurutnya, penutupan itu dilakukan oleh jajaran yang ada dibawahnya. Yaitu, Subdit Tententu pada Unit Tambang.

“Iya benar memang ada penyegelan itu. Untuk tanggalnya kapan saya kurang ingat. Yang pasti dilakukan pada Januari ini, ” ujarnya saat dikonfirmasi.

Menurut Arman sapaan akrabnya, penutupan itu dilakukan karena adanya administrasi izin tambang yang tidak sesuai. Karenanya, pihaknya menghentikan sementara dari pada kegiatan yang ada di pabrij tersebut.

“Iya itu ada administrasi izin nya yang tidak sesuai. Jadi dilakukan penutupan. Karenanya semua perusahaan harus ada izin nya, ” ujar mantan Kapolres Probolinggo itu.

Menurut Arman, penindakan yang dilakukan itu sifatnya sementara. Karena pengurusan berkaitan dengan izin , maka pihaknya juga menunggu pihak pabrik untuk mengurus izinnya. Tetapi, jika tidak diurus maka penindakan yang telah dilakukan itu tidak bisa dicabut kembali.

TUTUP: Pintu gerbang pabrik yang tutup. (Foto: M ROsyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Kalau ngurus ya baik. Kalau tidak ya tetap kami tindak, ” tegasnya.

sebelum dilakukan penutupan tersebut, menurut Arman terlebih dahulu dilakukan penindakan terhadap limbah dari pada perusahaan pengelolaan tambang itu. Nah, dari hasil penindakan itu ada ditemukan pencemaran limbah udara.

“Melalui unit limbah sebelum dilakukan penutupan dilakukan penidakan limbahnya. Dimana ada pencemaran limbah udara. Hasil pengembangannya itu ada keterkaitan dengan izin , ” ungkapnya.

Sementara itu, pihak perusahaan saat dihubungi melalui telephone tidak ada yang merespon. Koran ini sempat mengirimkan SMS terhadap Sajad, yang diketahui sebagai pengurus di dalam pabrik. Sayang, tidak ada jawaban.

Setelah beberapa kali dihubungi, telepon sempat diangkat. Tetapi, tidak menjawab. (sid/fun)