Cerita Asmara Pasutri Viral di Pasuruan yang Usianya Terpaut 28 Tahun

Jagat dunia maya dihebohkan dengan pernikahan Syamsuri, 50, warga Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo dan Dewi Silfiah, 22, warga Desa Karangsentul, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan. Apalagi kalau bukan perbedaan usia di antara mereka.

FAHRIZAL FIRMANI, Gondangwetan

Rumah bercat warna putih itu tampak lengang. Pintunya terkunci rapat dengan kain kelambu hijau terlihat menutupi daun jendela. Tidak tampak jika sebelumnya sang pemilik rumah berukuran 8×10 meter itu baru melakukan hajatan besar. Menikahkan putri sulungnya, Dewi Silfiah.

SEDERHANA: Rumah mempelai Dewi Silfiah di Dusun Karanganyar Tengah, Desa Karangsentul, Kecamatan Gondangwetan. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

Tidak sulit untuk menemukan rumah mempelai wanita yang sempat viral di dunia maya ini. Gang Dusun Karanganyar Tengah cukup mudah ditemukan. Rumah yang berlokasi di RT 3/RW 5 ini berada di persimpangan dusun setempat.

Saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi rumah tersebut, kebetulan pasutri yang sedang bahagia-bahagianya ini berada di rumah. Syamsuri pun menyambut hangat kedatangan Radar Bromo. Ia juga tak sungkan menceritakan kisah percintaannya yang oleh sebagian orang dianggap tak lazim.

Syamsuri mengungkapkan, pertemuannya dengan Dewi Silfiana berawal dari ketidaksengajaan. Akhir Desember lalu, ia hendak mengantarkan salah satu keponakannya untuk mondok di Ponpes Sidogiri, Desa Sidogiri, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Saat tiba di Desa Sidogiri, ia sempat berhenti untuk membeli makanan dan minuman di salah satu toko waralaba. Saat itulah ia tertarik melihat sebuah karpet yang diletakkan di luar sebuah toko kain, tidak jauh dari toko waralaba itu.

Ia pun masuk ke toko kain untuk melihat-lihat. Salah satu pegawai toko kain itu, Dewi Silfiana lantas keluar dan melayaninya. Ia pun sempat berbicara dengannya dan membeli salah satu kasur untuk keluarganya di Probolinggo. Rupanya, pertemuan ini menimbulkan benih-benih cinta di hatinya.

Keesokan harinya, ia kembali ke toko kain tersebut. Namun, bukan untuk membeli kasur. Melainkan untuk mengutarakan niatannya meminang Silfi – sapaan akrab Dewi Silfiana-. Dari sini diketahui jika Dewi Silfiana tinggal di Desa Karangsentul. Ia pun mendatangi rumah putri sulung dari Sudarno, 45 dan Mahmudah, 41, ini.

“Saya sempat salat Istikharah. Dari sini, saya mantap untuk mempersunting Silfi. Dan, awal Januari lalu saya mendatangi rumah orang tuanya untuk melamarnya. Alhmdulillah, prosesnya lancar. Kamis lalu (31/1) kami resmi menikah,” jelasnya.

Pria kelahiran 1968 ini menjelaskan, saat menikahi Silfi, statusnya adalah duda. Ia mengaku pernah menikah dengan perempuan bernama Dewi Fatonah. Namun, sang istri meninggal dunia pada 2017 lalu karena sakit. Ia pun sempat melakukan penjajakan pada 26 wanita, sebelum akhirnya merasa cocok denga Dewi Silfiana.

Ia menyebut pilihan ini bukannya tanpa alasan. Sebab, Dewi Silfiana tidak menuntut macam-macam dengan meminta dibelikan ini itu. Karakternya yang pendiam dan sederhana, membuatnya jatuh hati. Berbeda dengan kebanyakan wanita yang ditemuinya yang kerap meminta ini dan itu.

“Memang ada perbedaan usia hingga 28 tahun. Namun, hal ini bukanlah masalah. Yang penting kami saling menerima. Kunci keberhasilan suatu hubungan pernikahan adalah saling mengasihi dan pengertian antara suami-istri,” jelas pria yang sehari-harinya menjadi pedagang ayam ini.

Sudarno sendiri mengaku tak mempermasalahkan soal perbedaan usia yang cukup jauh dari keduanya. Bahkan, usianya lebih muda daripada sang menantu. Menurutnya, ini adalah pernikahan kedua putrinya usai bercerai dengan suami sebelumnya.

“Tidak ada paksaan dalam pernikahan ini. Putri saya memang langsung mengiyakan saat lamaran datang. Soal putri saya yang sempat menangis saat akad nikah, itu adalah tangisan haru. Ia bahagia usai sempat gagal di pernikahan pertamanya,” jelasnya. (rf)