Begini Aktivitas Hj Rukmini usai Purna Jadi Wali Kota Probolinggo

Rukmini mengakhiri jabatan politisnya sebagai Wali Kota Probolinggo tepat di penghujung Januari 2019. Dia pun kini fokus pada bisnis keluarga dan anak-anaknya. Walau kini belum mau lagi berpolitik, Rukmini tidak menutup hati untuk terjun lagi ke partai politik.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Selama satu periode, 2014-2019, Kota Probolinggo untuk pertama kali dipimpin oleh seorang perempuan, seorang ibu. Pemerintahannya memang resmi berakhir pada 28 Januari 2019. Namun, bagi warga Kota Probolinggo, sosok Rukmini masih terpatri jelas di benak mereka.

Dan Kamis (31/1), media ini bertemu dengan Hj. Rukmini di kantornya di Bromo View Hotel. Terasa berbeda. Itulah kesan pertama yang dirasakan media ini saat berbincang dengan Rukmini, empat hari setelah perempuan itu menyelesaikan tugasnya sebagai Wali Kota Probolinggo periode 2014-2019.

Tidak terlalu serius, seperti saat menjabat wali kota. Hari itu, Rukmini menemui media ini dengan aura yang jauh lebih santai.

Rukmini pun lebih banyak bergurau dan lebih fresh. Dia juga banyak menceritakan rencana dan aktivitasnya setelah lima tahun mengabdi sebagai wali kota perempuan pertama di Kota Probolinggo.

Rukmini sendiri mengakui. Setelah purnatugas, aktivitasnya jauh lebih santai. Dia jadi punya lebih banyak waktu untuk bertemu dengan keluarganya.

“Setelah tidak menjabat memang lebih santai. Bisa sama keluarga, ketemu anak-anak. Tapi, kalau cucu-cucu kebanyakan ya sekolah,” ujarnya.

Kadang Rukmini tinggal di Pilang. Rumah anak keduanya, Ina Dwi Lestasi. Kadang dia menginap di rumah putranya di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan. Yaitu rumah Indi Eko Yanuarto, anak pertamanya.

“Kalau di Brantas (di Pilang, Red), kadang olahraga jalan pagi. Kalau di Ketapang itu jarang karena ramai warga,” ujarnya.

Aktif berolahraga menjadi cara yang dilakukan Rukmini untuk menjaga kesehatannya. Termasuk melakukan pijat ringan ketika merasa lelah.

“Dulu saat Pilwali 2014, kesehatan saya sempat dipersoalkan tim pemenangan lain. Karena ada benjolan yang kata dokter kanker. Padahal, saya yakin saya sehat,” ujarnya.

Pasca berakhirnya masa jabatan, Rukmini juga ikut membantu usaha keluarga. Seperti di Bromo View Hotel dan pabrik BFI.

“Ya kadang ke kantor juga. Janjian dengan Ina juga di BFI,” ujar ibu empat anak ini.

Ada banyak kisah yang diungkapkan oleh istri HM Buchori ini di balik kebijakan-kebijakan yang dibuatnya saat masih menjadi wali kota. Salah satunya adalah keputusan untuk membedakan busana antara pegawai PNS dan non-PNS seperti GTT dan PTT.

“Saat itu saya melihat antara PNS dan pegawai non-PNS ini seragamnya sama. Sementara saya melihat ada PTT yang sikapnya kurang pantas, pakai seragam seperti PNS,” ujarnya.

Akhirnya pada 2015, Rukmini meminta agar seragam pegawai non-PNS dibedakan dengan pegawai PNS. Meskipun sudah berjalan lama, namun ternyata tidak sedikit pegawai non-PNS yang menolak menjalankan kebijakan ini.

“Ada yang masih pakai seragam dengan warna seperti seragam PNS. Ada yang seperti itu,” ujarnya.

Meskipun Rukmini terkesan membedakan dalam melaksanakan kebijakan ini, namun di sisi lain dia berupaya meningkatkan kesejahteraan pegawai non-PNS. Seperti melakukan tes kompetensi terhadap PTT, terutama dengan background pendidikan akuntansi untuk ditempatkan di OPD-OPD. Tugasnya membantu proses penataan keuangan di OPD.

Kebijakan ini tidak sekadar berupa tes. Namun, juga pemberian insentif tambahan bagi peserta yang lolos. Jika sebelumnya hanya digaji Rp 600 ribu per bulan, jika lolos seleksi bisa mendapatkan tambahan Rp 500 ribu setiap bulan.

Rukmini juga banyak bercerita tentang dunia politik yang sejak muda digelutinya. Rasa kecewa dirasakan betul ketika dalam Pilkada 2018, rekomendasi PDIP untuk maju ke posisi wali kota tidak dipercayakan padanya.

“Rasa kecewa ada ketika tidak mendapat kepercayaan kembali menjadi wali kota. Namun, itu akhirnya menjadi keputusan partai,” ujarnya.

Kini, mantan anggota DPR RI ini mengakui sudah tidak lagi menjadi pengurus DPD PDIP Jawa Timur. Sejumlah partai politik pun kerap mengajak dirinya serta keluarga untuk bergabung.

“Termasuk dari Partai Demokrat juga iya. Namun, saat ini saya dan keluarga memutuskan ingin istirahat dulu dari kegiatan kepartaian,” ujarnya.

Meskipun mengatakan istirahat, Rukmini tidak menutup kemungkinan untuk kembali terjun ke partai politik. Menurutnya, selalu ada kemungkinan untuk kembali berpolitik.

“Keadaan bisa jadi berbeda untuk tahun-tahun mendatang. Seperti yang pernah saya rasakan dulu,” ujarnya.

Rukmini sendiri telah berpolitik sejak masih muda. Bahkan, jauh sebelum menikah dengan HM Buchori, dia telah aktif di partai, yaitu di PDI.

“Saat itu PDI masih partai dengan kursi yang sedikit sekali. Jauh jika dibandingkan dengan dua parpol lain. Namun, siapa yang menyangka ketika reformasi, parpol yang awalnya hanya punya satu kursi akhirnya jadi sembilan kursi,” ujarnya.

Baginya, politik selalu menyajikan hal-hal yang kadang tidak terduga. Karena itu, Rukmini pun tidak menutup kemungkinan untuk berpolitik lagi. (hn)