Peluru yang Menyasar Warga Kramat Agung Kaliber 9 mm, Kena Leher

KORBAN PENEMBAKAN: Petugas medis RSUD Mulia saat menangani jenazah Sugeng Efendi (25) korban penembakan di salah satu kios depan SMAN 1 Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu (2/2). Insert, korban semasa masih hidup. (Polda Papua for Cepos)

Related Post

JAYAPURA – Penembakan pada Sugeng Efendi, 25, warga Kramat Agung, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo imbas ditembak orang tak dikenal di Papua, jadi perhatian kepolisian setempat. Sejauh ini, polisi masih menyelidiki kasus itu.

Kabidhumas Polda Papua, Kombespol A.M. Kamal menuturkan, awalnya diketahui adanya laporan warga yang tertembak. Sekira pukul 18.20, seorang warga meminta bantuan karena terjadi penembakan. ”Selanjutnya, korban dievakuasi,” tuturnya.

Namun, saat berada di RSUD Mulia, korban telah dinyatakan meninggal dunia. Korban alami luka tembak di leher tembus ke belakang. ”Pelurunya kaliber 9 mm,” ungkap Kamal dalam release yang diterima Cenderawasih Pos.

Dikatakannya, awalnya korban sedang duduk menonton film melalui handphone di dalam sebuah kios depan SMAN 1 Mulia kampung Wiyukwi, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu (2/2) sekira pukul 17.49 WIT. Tidak lama kemudian terdengar letusan seperti bunyi tembakan sebanyak satu kali.

“Korban sedang menonton film di handphone dan tiba-tiba terdengar letusan dan ia mengatakan jika ia tertembak,” kata Kamal. Korban yang bekerja sebagai penjaga kios tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong.

Menurut Kamal, sekira pukul 18.15 WIT saksi Nendi Telenggen menuju ke Pos TNI untuk memberitahukan jika terjadi penembakan dan meminta tolong untuk segera dibantu. Dari laporan ini pihak Kodim 1714/PJ dan Polres Puncak Jaya langsung meminta bantuan mengevakuasi korban ke RSUD Mulia.

Kamal menyebutkan, hingga Minggu (3/2) korban disemayamkan di masjid Mujahidin, Mulia dan rencananya diterbangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (4/2).

Dia menjelaskan bahwa pelaku sedang dikejar petugas. Namun, saat malam hari petugas menghentikan pengejaran untuk keselamatan. ”Nanti akan dilanjutkan kembali,” terang polisi dengan tiga melati di pundaknya tersebut.

Apakah pelaku penembakan itu KKSB (Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata)? Dia menjelaskan bahwa upaya untuk mengungkap identitas pelaku sedang dilakukan. Namun, kemungkinan besar memang KKSB yang berada di balik penembakan tersebut. ”Kami sedang dalami,” urainya.

KKSB memang selama ini diketahui memiliki persenjataan dan amunisi. Namun, bukan berarti tidak bisa dicegah, Polri beberapa waktu lalu telah menangkap tiga pemasok senjata dan amunisi untuk KKSB. ”Ketiganya sudah diproses hukum dan telah divonis,” tuturnya.

Kasus penembakan yang menewaskan warga Kramat Agung Bantaran itu juga jadi perhatian Ketua DPRD Papua, Yunus Wonda. Sebagai anak asli Puncak Jaya ia mengaku kecewa karena hingga kini perjuangan para kelompok yang berada di hutan tersebut.

“Sampai kapan mau seperti ini? Sampai kapan mau ada yang tewas. Hari ini kelompok di hutan yang tembak, besok aparat dan yang korban semua warga sipil. Saya kecewa dan seharusnya tidak menghilangkan nyawa,” imbuhnya.

Sementara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) yang selama ini disebut KKSB oleh pemerintah, beberapa kali melakukan penembakan terhadap warga. Hal itu dikarenakan mereka menganggap orang yang ditembak tersebut merupakan mata-mata dari TNI dan Polri.

Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom berulang kali menyebutkan, pihakya tidak pernah sembarangan dalam melakukan operasi. Bila memang tidak menjadi mata-mata dari TNI dan Polri, pihaknya tidak akan melukainya. ”Tapi, kalau mata-mata ya beda,” jelasnya.

Yang pasti, TPNPB-OPM memiliki metode dan cara untuk mengetahui mata-mata yang dimiliki TNI. ”Kami mengetahui mana yang warga mana yang bukan,” papar alumnus sebuah perguruan tinggi di Jogjakarta tersebut. (ade/fia/idr/nat/JPG)