Razia di Warung Remang-remang di Besuk, Satpol PP Amankan PSK-Mucikari-Pria Hidung Belang

DIDATA: Para PSK yang terjaring Satpol PP di warung remang-remang yang ada di Besuk, didata petugas di markas. Selain PSK, petugas juga mengamankan dua orang yang diduga menjadi mucikari. (M Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KRAKSAAN – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Probolinggo terus melakukan upaya mengurangi penyakit masyarakat di wilayahnya. Selasa siang (5/2), mereka kembali mengamankan 9 pekerja sek komersial (PSK) dan dua mucikari, saat menggelar razia di wilayah Kecamatan Besuk. Mereka diamankan di empat warung yang berbeda.

Razia yang dilakukan kemarin itu memang difokuskan di Kecamatan Besuk. Ada dua lokasi yang menjadi target. Yaitu di Desa Kelampok dan juga Desa Sindetlami. Masing masing desa ada dua warung-remang remang.

Saat dilakukan razia itu, didapati 8 PSK itu sedang asyik menunggu pria hidung belang. Bahkan ada yang sudah memakai jasa mereka. Ini terlihat saat ada PSK yang sedang melayani pria hidung belang didalam kamar.

Setibanya petugas di TKP mereka mencoba melarikan diri. Tetapi, karena petugas yang melakukan razia itu cukup banyak, akhirnya tak satupun PSK yang lolos. Bahkan yang tengah asyik berduaan di dalam kamar dengan kondisi celana dilepas, ikut diangkut.

PSK itu diketahui berinisial KH, 23. PSK asal Situbondo itu mengaku belum sempat melayani. Pasalnya, saat itu ia baru saja mencopot celananya. Nah, saat itu juga petugas datang. Sehingga tidak jadi untuk bersetubuh. “Ya tidak jadi. Saya baru buka celana itu,” ujarnya.

KH mengaku, tarif satu kali main sekitar Rp 150 ribu. Wanita yang sudah tiga kali menikah dan tiga kali bercerai itu mengaku berkecimpung di dunia hitam lantaran kebutuhan. “Saya kan tidak ada yang menafkahi, jadi ya begini ini. Tetapi ini tidak rutin. Saya kalau lagi butuh uang saja, dan saya pilih-pilih pelanggan, ” ungkap wanita yang tidak memiliki anak itu.

Sementara itu, Ri, mucikari yang turut diamankan menjelaskan, ia berdalih menjadi mucikari. Dirinya hanya sebatas menyewakan tempat, dan dia menerima sewa kamar saja. “Saya beri tarif hanya 10 ribu saja per kamar. Jadi kalau wanita itu main, kamarnya sepuluh ribu, ” ungkapnya.

Hal berbeda diungkap Sam. Mucikari lain yang turut diamankan. Menurutnya, setiap kali dua anak buahnya main, ia hanya mendapatkan dua puluh ribu. Lebih besar sepuluh ribu dari pada Ri.”Kalau saya Rp 20 ribu. Saya sudah tujuh bulan ini bisnis ini. Sebab, jika hanya jual kopi biasa, ndak laku kalau tidak ada ceweknya, ” tutur pria asal pulau garam itu. (sid/fun)