Menjawab Tantangan Pemimpin Baru

GEGAP gempita dan euforia warga Kota Probolinggo membahana seiring dilantiknya Habib Hadi Zainal Abidin dan Mochamad Soufis Subri sebagai wali kota dan wakil wali kota. Jelas, euforia itu hanya sementara. Karena setelah dilantik, keduanya harus menjawab tantangan untuk merealisasikan janji kampanye.

Entah mungkin hanya kebetulan, di abad 21 milenium ke tiga dalam kalender Gregorian, Habib Hadi menjadi wali kota ke 21 di Kota Probolinggo. Saya tidak hendak membahas soal klopnya angka-angka tersebut. Tapi, lebih tantangan pemerintahan ini dalam satu periode ke depan.

Saya yakin, Habib Hadi dan Mas Subri (sebutan Habib dan Mas tampaknya lebih luwes dari sebutan Pak), sudah melakukan analisis dari tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang. Salah satunya terkait pemberdayaan ekonomi itu. Tentu hal itu untuk mengatasi kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Perbincangan singkat, setidaknya menumbuhkan optimisme terkait hal itu. Program pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis komunitas, menjadi salah satu cara untuk menyeimbangkan bandul ekonomi yang dikuasai kalangan elit. Terutama merebaknya toko waralaba yang jumlahnya kian hari kian bertambah.

Diskursus soal ekonomi kerakyatan memang sudah lama digaungkan. Meskipun, tidak semuanya tuntas dan paham bagaimana melaksanakannya. Saya tidak ingin mengatakan bahwa diskursus tersebut sia-sia. Hanya saja, melaksanakannya tidak mudah jika tidak ada dukungan kebijakan dari pemerintah daerah.

Kembali pada program yang dicanangkan pasangan Habib Hadi dan Mas Subri, saya sepakat dengan keinginan keduanya menciptakan UKM baru setiap tahun. Bayangkan, akan ada 500 UKM baru untuk meningkatkan income per kapita warga. Tidak melulu top down. Habib Hadi menginginkan inisiatif juga dilakukan warga atau komunitas.

Kenapa komunitas? Karena bergerak melalui kelompok-kelompok yang sudah terbentuk, lebih mudah mengorganisasinya. Seperti melalui organisasi kemasyarakatan. Ada NU dan Muhammadiyah dengan banom dan ortomnya. Termasuk ormas-ormas lainnya juga bakal mendapat dukungan dari pemkot.

Akses permodalan juga akan dipermudah dengan pinjaman lunak. Klise memang. Tapi, hal itu mutlak diperlukan. Iktikad baik pemimpin baru ini layak untuk direspons cepat. Karena waktu tak akan berhenti di tempat-tempat diskusi maupun warung kopi. Siapa yang berani menjawab tantangan ini, maka dialah yang akan menikmati prosesnya lebih awal.

Mathias Greffrath, seorang penulis dan wartawan asal Jerman menulis dalam artikelnya, bahwa gerak pelaku ekonomi dipengaruhi oleh sumber daya alam dan manusianya. Dunia dan seisinya menurut Greffrath menawarkan dua hal pada manusianya. Apakah jadi produsen atau menjadi konsumen.

Nah, saat ini tinggal bagaimana pelaku ekonomi maupun yang mualaf (baca: baru) akan memulai usahanya, menjawab tantangan pemimpin baru. Akses permodalan diberikan, pelatihan akan diberikan, pendampingan juga akan dilakukan, sampai proses pemasaran melalui digital akan diluncurkan. Bagaimana dengan Anda? Kalau kata Mas Anang Hermansyah, “Aku sih, Yes!” (*)