Ini Bahaya Ikan Buntal jika Dikonsumsi Secara Tak Tepat

KRAKSAANEmpat orang yang masih satu keluarga di Dusun Gluguk, Desa Brumbungan Kidul, Kecamatan Maron, mengalami keracunan usai memakan ikan buntal atau ikan kembung. Meski sudah pernah bahkan terbiasa memakan ikan ini, sejatinya ikan buntal memang berbahaya bila dikonsumsi jika pengolahannya tidak tepat.

MASIH LEMAS: Korban Habibullah (kiri) dan Mahfud yang memancing ikan buntal, saat dalam perawatan di RSUD Waluyo Jati. (Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Bromo, ikan buntal masuk dalam famili Tetraodontidae dengan ordo Tetraodontiformes dan memiliki tulang belakang yang luas, besar, dan tipis. Ikan ini termasuk hewan bertulang belakang (vertebrata) yang sangat beracun kedua di dunia setelah katak emas beracun.

Racun yang dimiliki ikan buntal disebut Tetradotoksin. Bagian tubuh yang mengandung racun ini adalah hati, ovarium kulit, dan usus halus. Racun ini tahan terhadap panas dan juga racun non-protein yang larut dalam air. Racun ikan yang biasa disebut ikan kembung ini, dapat melumpuhkan otot sementara korbannya dalam keadaan sadar. Korban tidak dapat bernapas dan akhirnya meninggal dari asphyxiation.

Saat satu keluarga ini memakan ikan hasil pancingan Mahfud, mulanya tidak ada yang aneh. Keanehan baru terasa satu jam kemudian. Keempatnya, mengaku merasakan pusing, sesak napas, dan muntah-muntah.

Beruntung, saat keempat korban tengah keracunan, ada tetangga yang tahu. Sehingga, kemudian keempatnya dilarikan ke Puskesmas Maron untuk mendapatkan pertolongan. Sayang, selang empat jam dirawat di Puskesmas Maron, pasutri Baidowi dan Sunaenah mengembuskan napas terakhir sebelum dilarikan ke rumah sakit.

“Untuk yang pasutri meninggal terlebih dulu. Diduga mereka makan ikan itu terlalu banyak. Dan yang dua lainnya makan banyak juga, tetapi kondisi tubuhnya kuat,” tandas Kapolsek Maron AKP Sugeng. Untuk yang dua korban lainnya, yaitu Habibullah dan Mahfud agar mendapatkan pelayanan yang maksimal dirujuk ke RSUD Waluyo Jati.

Di sisi lain, Humas RSUD Waluyo Jati Sugianto menjelaskan, saat pertama kali korban dirujuk ke rumah sakit, kondisi Mahfud dan Habibullah emergency. Mukanya pucat dan masih kerap muntah-muntah. Selain itu, detak jantung dari keduanya sangat tinggi. Diduga hal itu adalah efek dari racun ikan buntal.

“Kondisinya masih belum cukup baik. Masih harus dilakukan perawatan akibat racun ikan buntal itu,” ungkap pria yang akrab disapa Sugik itu.

Sebenarnya, ikan buntal itu aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Dengan catatan, yaitu diolah dengan cara baik dan benar. “Jadi, kalau diolah dengan benar, aman. Terbukti, sebelumnya tidak apa-apa saat mengonsumsinya,” terangnya.

Sugik menambahkan, kasus keracunan ikan buntal yang pernah ditangani oleh pihaknya bukan kali pertama. Menurutnya, juga pernah ada warga dari Pajarakan dan juga Paiton yang mengalami kasus serupa. Tetapi, semuanya kembali normal.

“Untuk kali ini baru ada kasus yang sampai meninggal,” ungkapnya.

Kabid Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Wahid Noor Aziz juga berkomentar. Menurutnya, ikan buntal sangat berbahaya. Ikan buntal adalah jenis ikan yang beracun dan bahaya untuk dikonsumsi. “Racun pada ikan buntal dinamakan tetradotoksin yang lebih berbahaya 10.000 kali daripada zat sianida,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Wahid itu menyebutkan, bagian tubuh ikan buntal yang diketahui mengandung racun adalah hati, ovarium kulit, usus halus, dan telurnya. Sehingga, masyarakat perlu waspada dan tidak dianjurkan untuk mengonsumsi ikan tersebut kecuali sudah memahami cara memasaknya.

“Kami mengimbau agar warga tidak mengonsumsi ikan itu. Sebab, efek dari racun yang ditimbulkan oleh ikan buntal itu sangat berbahaya,” tandasnya. (sid/fun)