Inilah Kolam Mata Air Sumbersono di Bangil yang Memiliki Potensi Wisata

Kolam mata air Sumbersono di Lumpangbolong, Kelurahan Dermo, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, memiliki potensi wisata yang luar biasa. Sayang, pengelolaan yang tak maksimal, membuat potensinya kurang terjaga.

IWAN ANDRIK, Bangil

Airnya begitu jernih. Sampai-sampai, dasar kolam begitu tampak saat dipandang. Bahkan, dasar sungai terlihat begitu dangkal.

Saking jernihnya, ikan yang ada di dalam kolam dengan mudah bisa dilihat. Ikan itu asyik berenang, saling berkejar-kejaran.

Begitulah kondisi kolam yang ada di sumber mata air Sumbersono. Kolam tersebut berada di Lumpangbolong, Kelurahan Dermo, Kecamatan Bangil. Lokasinya, sekitar empat kilometer dari pusat kota Bangil.

Kolam tersebut biasanya dijadikan tempat pemandian bagi warga. Tidak hanya warga Bangil, tetapi juga Rembang dan beberapa daerah lainnya.

Bahkan, dulunya, Sumbersono sempat fenomenal. Kolam tersebut banyak dikunjungi warga di era tahun1980 hingga 1990-an. Sayangnya, pamor Sumbersono semakin memudar.

Kondisinya relatif sepi. Bahkan, sehari bisa kosong dari kunjungan. “Pengunjungnya tidak menentu. Kadang ada, kadang bahkan tidak ada sama sekali,” ujar Joko Mukmin, 39, petugas jaga kolam Sumbersono saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di lokasi.

Joko –sapaannya- menguraikan, Sumbersono merupakan kolam peninggalan Belanda. Hal itu bisa terlihat dari arsitektur bangunan yang ada di sekitaran kolam.

Ia tak mengetahui pasti kolam mata air tersebut kapan dibangun. Namun, diperkirakannya, sekitar tahun 1922 silam. “Yang jelas, Sumbersono ini merupakan peninggalan Belanda. Fungsinya apa waktu itu, kurang mengerti juga. Kemungkinan, untuk menampung air sumber yang digunakan untuk minum,” imbuhnya.

Lelaki yang sudah 10 tahun bertugas sebagai penjaga Sumbersono tersebut menyampaikan, Sumbersono ini merupakan kolam mata air yang dikelola oleh PDAM. Air sumber dikelola untuk disalurkan ke rumah-rumah warga.

Meski begitu, pihaknya tak memungkiri, sering adanya warga yang datang ke lokasi setempat. Mereka datang untuk mandi atau mencuci. Hal itu, sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Ia berujar, nama Sumbersono didapuk lantaran adanya mata air yang ada di wilayah setempat. Sumber itu tak pernah surut sejak bertahun-tahun lamanya hingga sekarang. Sementara kata Sono, disebut-sebut lantaran dulunya, banyak pohon Sono yang ada di wilayah setempat.

“Sebenarnya di sini, bukan tempat wisata pemandian. Tetapi, sumber air yang dikelola oleh PDAM. Hanya memang, banyak warga berdatangan ke sini untuk mandi ataupun mencuci lantaran melihat airnya yang bersih dan segar. Dan hal itu sudah turun temurun,” tambahnya.

Ia masih ingat ketika masih kecil, dirinya sering datang ke Sumbersono untuk bermain. Tentu dirinya tidak sendirian karena bersama teman-temannya secara rombongan. “Waktu liburan ataupun pulang sekolah, sering ke sini dulu,” akunya.

Dulu, kata Joko, lokasi setempat ramai dikunjungi warga. Puluhan orang setiap harinya bisa datang. Namun, sekarang sangat minim. Tak sampai 10 orang kalau weekend. Bahkan, hari biasa, nyaris tidak ada yang datang.

Menurutnya, beberapa faktor menjadi persoalan. Salah satunya, akses jalan yang tak nyaman. Untuk menuju lokasi, jaraknya hampir setengah kilometer dari Latek, Kecamatan Bangil.

Sebagian memang sudah terpaving. Namun, sebagian lainnya masih berupa tanah. Sehingga, ketika hujan jalannya jeblok. “Aksesnya memang kurang baik. Seandainya jalannya menunjang, mungkin lebih banyak yang datang,” ungkapnya.

Di samping itu, tidak ada tambahan fasilitas di lokasi. Seperti arena permainan. Hal ini, yang membuat pamor Sumbersono, tak setenar dulu.

“Karena memang, di sini sebenarnya bukan wahana wisata,” dalihnya.

Potensi wisata itu pun seolah terkubur. Seperti yang diungkapkan Sholeh, warga Rembang. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, Sumbersono bisa menjadi salah satu objek wisata unggulan di Kabupaten Pasuruan, terutama di Bangil.

“Sayangnya, kan pengelolaan untuk konsep wisata tidak maksimal,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan Agung Maryono mengungkapkan, optimalisasi wisata Sumbersono terganjal aset. Sumbar air tersebut bukan aset pemkab. Sehingga, pemkab tidak memiliki kewenangan untuk mengelolanya.

“Kami tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan pengelolaan lantaran masalah aset. Sumbersono itu, bukannya aset pemkab. Sehingga, kami tidak memiliki kewenangan untuk menangani,” jelas dia. (fun)