Satu Keluarga Keracunan di Maron Ternyata Sudah Biasa Mengkonsumsi Ikan Buntal

MARON – Peristiwa keracunan yang dialami satu keluarga di Dusun Gluguk, Desa Brumbungan Kidul, Kecamatan Maron, menggemparkan Probolinggo. Akibatnya, dua korban yang berstatus pasutri yakni Baidowi, 49 dan Sunaenah, 46. Meregang nyawa. Sementara dua korban lain yakni Mohammad Habibullah, 13, anak dari Baidowi dan Sunaenah. Satu korban lagi yakni Mahfud, 43, adik dari Baidowi, harus dapat perawatan di RSUD Waluyo Jati.

SIMPATIK: Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari menyambangi Habibullah yang Jumat (8/2) masih dalam perawatan. (Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Keempatnya merupakan satu keluarga yang tinggal satu rumah di RT 22/RW 04 Dusun Gluguk, desa setempat. Keduanya pun masih terlihat lemas dan merasa mual-mual serta pusing, meski sudah dua hari mengkonsumsi ikan buntak atau ikan kembung.

Jumat (8/2) lalu, keduanya mendapatkan respons dari Pemkab Probolinggo. Kedua korban yang masih dalam perawatan, disambangi Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari. Kedatangan bupati itu adalah bentuk keprihatinan seorang bupati kepada warganya yang kena musibah.

Tantri datang dengan beserta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo Anang Budi Yuliejanto. Bupati menyayangkan kejadian itu. Pasalnya, akibat kejadian itu kedua orang tua dari Habibullah meregang nyawa.

Tantri mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Probolinggo agar lebih berhati-hati. Terutama dalam mengolah maupun mengonsumsi ikan perairan laut yang memang umumnya dikenal sangat riskan jika dikonsumsi bagi yang tidak tahu cara mengolahnya.

“Sudah kami lihat dari dekat dan Alhamdulillah kondisi pasien sudah jauh lebih baik daripada kondisi sebelumnya. Mereka sudah membaik dan efek racun sudah jauh berkurang, tinggal pusing saja yang masih terasa,” kata Tantri.

Saat berbincang dengan awak media, Mahfud salah satu korban mengaku sudah berkali-kali memakan ikan buntal jenis yang dimakannya bersama itu. Menurutnya, baru kali ini mengalami keracunan. “Sebelumnya ya tidak merasakan apa-apa. Baru kali ini merasakan hal semacam ini,” ujar Mahfud yang masih terbaring lemas.

Hal yang sama diungkap Habibullah. Menurutnya, keluarganya kerap memakan ikan buntal secara bersama. Tetapi, ia tidak menyangka, pada Rabu lalu itu bisa berakibat seperti itu “Tidak tahu kalau jadinya begini,” ujar remaja yang kini menjadi yatim-piatu tersebut.

Habibullah juga tak bisa menghadiri pemakaman kedua orang tuanya, yang dikebumikan sehari usai tragedi tersebut. Dia pun masih harus mendapat cairan infus, selama masa perawatan.

Seperti diberitakan sebelumnya, empat orang yang masih satu keluarga di Dusun Gluguk, Desa Brumbungan Kidul, Kecamatan Maron, mengalami keracunan usai memakan ikan buntal. Kejadian itu terjadi Rabu (6/2) lalu sekitar pukul 17.30. Bermula dari korban Mahfud yang habis memancing di laut dan mendapatkan seekor ikan buntal bintik hitam. Ikan itu lalu dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, Mahfud meminta Sunaenah untuk memasak ikan buntal hasil pancingannya. Rencananya, ikan tersebut untuk laut berbuka puasa. Dan setelah matang, ikan tersebut disantap bersama yakni sekitar pukul 18.00 oleh Baidowi, Sunaenah, Habibullah, dan Mahfud sendiri. (sid/fun)