Pasutri Lansia Tinggal di Rumah tanpa Listrik di Tengah Kota

Di tengah terangnya permukiman warga Gang Bayusari 8, rumah pasangan suami-istri (pasutri) Djuhar – Rusni justru gelap gulita. Kondisi pasutri yang lanjut usia ini pun menjadi viral di media sosial.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Suasana di Gang Bayusari 8, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Sabtu (9/2) malam, mendadak ramai. Keramaian itu berpusat di salah satu gang kecil di jalan tersebut. Tepatnya di rumah milik pasutri Djuhar-Rusni.

Rumah tinggal sederhana itu mendadak jadi pusat perhatian karena didatangi Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin. Wali Kota datang didampingi Camat Kanigaran Pudi Adji Tjahyo Wahono.

Djuhar, 65, mendadak viral di facebook ketika sebuah akun FB menyampaikan kondisi Djuhar dan istrinya, Rusni, 60, yang memprihatinkan. Diceritakan di akun tersebut, Djuhar sedang sakit dan hidup di rumah yang tidak teraliri listrik.

Rumah Djuhar sendiri sangat sederhana. Terbuat dari tembok, namun beralaskan tanah. Malam itu, Djuhar menerima kedatangan Wali Kota dengan mengenakan baju koko cokelat yang lusuh. Dia ditemani istrinya yang juga sudah sepuh.

Bagian dalam rumahnya pun sangat sederhana. Hanya ada sebuah dipan dari bambu serta meja untuk meletakkan lilin. Sebuah lampu kecil menyala redup terpasang di salah satu sudut rumah. “Itu lampu cas-casan, Mbak. Kalau pagi casnya di rumah saya,” ujar Aan, tetangga Djuhar.

Harian ini menyapa pasutri tersebut. Namun, keduanya tidak bisa berbahasa Indonesia. Keduanya hanya mampu bercakap dalam bahasa Madura.

Kaule takok, anak kaule kesetrum. Anak kaule stres (saya takut, anak saya kesetrum. Anak saya stres),” ujar Rusni menuturkan alasan keengganannya memasang listrik di rumahnya.

Bahkan, menurut tetangga, kerabat pasutri tersebut sebenarnya bersedia membantu memasangkan listrik. Tapi, keduanya tidak mau. “Nggak usah listrik yang colokan itu. Pasang listrik yang cetetan saja, biar gak kesetrum,” bujuk beberapa tetangga Rusni.

Kondisi keduanya makin memprihatinkan karena Djuhar saat ini sedang sakit. Dhujar perokok berat itu, sudah enam bulan ini sakit.

“Sakit sudah enam bulan ini. Sudah ke Puskesmas, tapi ndak sembuh-sembuh. Disuruh berhenti merokok tidak pernah mau,” ujarnya.

Atas permintaan Wali Kota, seorang dokter bersama sebuah unit ambulans kemudian datang. Dokter pun langsung memeriksa kondisi Djuhar.

Hasilnya, dokter merekomendasikan pada Wali Kota bahwa Djuhar perlu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Selain gatal-gatal, ada indikasi masalah pada jantungnya. Djuhar pun menurut ketika dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulans.

Radar Bromo mendapatkan banyak cerita seputar pasutri ini dari beberapa tetangga. Djuhar–Rusni, tidak hanya dihimpit kesulitan ekonomi. Namun, juga harus merawat putra satu-satunya yang mengalami gangguan mental atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

“Pak Djuhar ini punya dua anak. Satu sudah meninggal, satu masih hidup yaitu Rasyid. Sayangnya, dia itu agak (maaf) ndak waras,” ujar Siti Mariam, tetangga Djuhar.

Siti mengaku tidak tahu penyebab Rasyid mengalami gangguan jiwa. Sejak muda, Rasyid sudah mengalami gangguan jiwa. “Kemudian sembuh dan akhirnya menikah dan punya anak. Setelah menikah itu dia kembali seperti itu,” ujarnya.

Siti memastikan, keluarga ini sudah mendapatkan bantuan dari Dinas Sosial seperti PKH. Namun, setiap hari, Djuhar mengemis keliling kota. Sementara untuk makan, sehari-hari mereka diberi makan oleh cucunya dari anak yang pertama.

“Pernah suatu hari, Djuhar mengemis ditipu orang. Kantong berisi uang dan bajunya diambil orang. Hanya menyisakan celana pendek saja,” ujarnya.

Wali Kota sendiri datang setelah mendengar cerita tentang Djuhar dan istrinya. Tujuannya, memastikan setiap warganya mendapatkan akses kesehatan yang baik.

“Kami meminta agar Pak Djuhar dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Kami juga akan memeriksa apakah keluarga ini sudah mendapat program-program dari Dinas Sosial,” ujarnya saat ditemui Sabtu malam.

Mengenai kondisi rumah pasutri tersebut yang tidak terakses listrik, Hadi menyebut, keduanya memang enggan memasang listrik. “Saat ini prioritas utama adalah kesehatan Pak Djuhar dulu. Termasuk Putranya yang mengalami gangguan jiwa akan kami bantu. Tapi, prioritas masalah kesehatan dulu,” jelasnya. (hn)