Majelis Syubbanul Muslimin Libatkan Pemuda dalam Proses Dakwah Kreatif

Majelis Ta’lim dan Salawat Syubbanul Muslimin beranggotakan anak-anak muda kreatif yang memilih berdakwah melalui kesenian musik. Tak hanya rajin bersalawat, mereka juga punya kreativitas luar biasa dalam berdakwah.

————-

“Saya punya cita-cita sederhana, yaitu bagaimana menyusun jalan dakwah yang lebih luas. Dari sana saya berpikir bahwa kita harus lebih kreatif,” ujar KH. Hafidzul Hakiem Noer, pimpinan Syubbanul Muslimin. Spektrum dakwah dan salawat pun bergema hingga ke berbagai daerah. Baik di dalam maupun luar negeri.

Setelah merintis Syubbanul Muslimin pada 2005, majelis itu perlahan tapi pasti mulai diterima masyarakat luas. Syubbanul Muslimin diundang ke berbagai daerah. Gus Hafidz, sapaan akrab KH Hafidzul Hakiem mendorong model dakwah yang lebih kreatif. Dia pun membentuk tim multimedia Syubbanul Muslimin. Tentu awalnya bukan dengan peralatan modern nan lengkap seperti saat ini.

“Awalnya dulu malah pakai kamera handphone, itu pun bukan smartphone canggih seperti banyak beredar di pasar saat ini. Lalu, kami mulai punya kamera video, itu pun hanya satu. Jadi, belum bisa ambil gambar dari berbagai sisi. Alhamdulillah, kami jalani semua. Pokoknya berusaha lebih kreatif agar dakwah lewat salawat ini bisa disebarluaskan lebih banyak,” ujarnya.

Hasil rekaman video amatir itu pun diunggah ke YouTube. Meski tampilannya saat itu sangat sederhana, ternyata menuai respons positif. “Banyak orang kemudian melihat kami di YouTube, dari berbagai daerah. Banyak yang ikut salawatan. Alhamdulillah,” cerita Gus Hafidz.

Secara bertahap, alat multimedia yang dipakai Syubbanul Muslimin pun semakin lengkap. Jumlah kamera bertambah. Memakai lighting lengkap, mikrofon, sound system, hingga drone.

Anak-anak muda yang bergabung di Syubbanul Muslimin, yang sebagian dulunya suka bermabuk-mabukan, ikut terlibat mendalami multimedia. Mereka dilatih soal fotografi, sinematografi, desain grafis, dan seluk-beluk audio dengan mendatangkan pengajar dari luar.

“Kami ingin memberi nilai tambah. Anak muda Islam tak hanya harus rajin ibadah dan cinta salawat, tapi juga kreatif. Termasuk salah satunya dengan menguasai ilmu dan praktik multimedia. Alhamdulillah, kini anak-anak muda sudah pandai multimedia, mulai mengedit, mengatur audio, hingga fotografi,” jelas Gus Hafidz.

Dengan penguasaan ilmu multimedia, Syubbanul Muslimin makin rajin berdakwah lewat media sosial. Baik itu YouTube, Instagram, maupun Facebook. Penampilan mereka di berbagai daerah diunggah di media sosial. Mereka juga membikin konten-konten khusus media sosial. Seperti ceramah-ceramah pendek.

Followers mereka di media sosial pun melejit. Syubbanul Muslimin adalah majelis pertama di Indonesia yang meraih penghargaan “Silver Play Button” dari YouTube karena telah meraup 100 ribu subscriber. Saat ini, majelis ini telah mempunyai 867 ribu subscriber di YouTube. Videonya telah dilihat jutaan kali.

“Kami memang sengaja aktif di media sosial agar spektrum kebaikan ini bisa terus meluas tanpa terkendala batas-batas geografis,” ujar Gus Hafidz.

Lagu-lagu Syubbanul Muslimin kian hari kian banyak dikenal orang. Majelis ini pun mulai menggubah lagu sendiri. Deretan lagunya akrab di telinga, seperti Ibu Aku Rindu, Ya Robbi (gubahan lagu Cinta Terlarang), Cinta dalam IstikharahAlfatihah Untukmu, dan Ahmad ya Habibi.

Syubbanul Muslimin juga melahirkan insan kreatif yang dikenal luas, antara lain sang vokalis, Muhammad Ulul Azmi Askandar al-Abshor atau Gus Azmi. (rf)