Begini Cara Puskesmas Purwodadi Antisipasi Demam Berdarah

PURWODADI – Akhir-akhir ini telah terjadi peningkatan kasus demam berdarah (DB) di beberapa wilayah di Indonesia tidak terkecuali di Provinsi Jawa Timur. Peningkatan kasus DB terjadi akibat musim hujan, lantaran terdapat banyak genangan air yang memungkinkan untuk menjadi media nyamuk (Aedes Aegypti) berkembang biak. Peningkatan kasus DB ini merupakan siklus tahunan, dimana setiap musim hujan selalu terjadi peningkatan kasus demam berdarah.

Kemudian, Apa yang harus dilakukan? apa dengan pengasapan (Fogging)?. “Tidak, Pengasapan (Fogging) bukanlah cara yang efektif untuk penanggulangan DB. Pengasapan (Fogging) hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik atau larva nyamuk tetap hidup,” kata dr. Sudjarwo Kepala Puskesmas Purwodadi kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Selain itu, tambahnya, fogging dilakukan menggunakan bahan campuran solar dan insectisida yang dapat mencemari lingkungan dan berbahaya terhadap kesehatan. Yang harus dilakukan untuk mencegah penyakit DB dan memotong siklus hidup nyamuk aedes aegypti adalah melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak dan bersama-sama.

Pada saat ini di beberapa wilayah sudah diaktifkan kembali jumantik. Bahkan beberapa di antaranya menggunakan metode 1 rumah 1 jumantik, dimana salah satu anggota keluarga menjadi jumantik untuk rumah dan lingkungan sekitar rumahnya sendiri.

Di Puskesmas Purwodadi telah dilaksanakan proram Jumantik ini dengan nama “Bapak Linmas Lari Pagi” yang memiliki kepanjangan Bapak Libas Nyamuk Ganas Lari Tanpa Fogging. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Dusun Cari dan Batok desa Lebakrejo dimana puskesmas bekerjasama dengan Desa dan masyarakat disana untuk mencegah penyakit DB dan menciptakan wilayah zero DBD.

Dalam kegiatan ini masyarakat didorong untuk sadar tentang pentingnya PSN dan terlibat langsung didalamnya melalui kegiatan Jumantik dan penanaman tanaman pengusir nyamuk (serai merah dan Lavender) dengan cara arisan yang mana nantinya akan digunakan untuk kepentingan pencegahan DBD di wilayah tersebut.

Kegiatan ini telah berhasil dilaksanakan di dusun tersebut, untuk kedepannya akan dapat diterapkan di dusun atau desa lain sehingga dapat menghindarkan masyarakat dari penyakit DB. Oleh karena itu penanganan penyakit DB ini tidak dapat diselesaikan hanya puskesmas saja, akan tetapi dibutuhkan kerjasama yang kuat antara semua sektor yang ada di wilayah serta dibutuhkan adanya kesadaran dan partisipasi dari masyarakat itu sendiri. Dengan masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Hygiene Sanitasi lingkungan yang baik, maka akan dapat mencegah penyakit Demam Berdarah. (eka/fun)